Survei nasional yang dirilis Indikator Politik Indonesia mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen. Angka ini disebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya dan dibaca sebagai sinyal bahwa sebagian besar masyarakat menilai arah kerja pemerintah berada pada jalur yang dipercaya.
Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menyampaikan bahwa porsi terbesar responden berada pada kategori “cukup puas”, sementara sebagian lainnya menyatakan “sangat puas”. Jika digabungkan, tingkat persetujuan tersebut dinilai tinggi, terutama untuk seorang presiden yang masih berada pada fase awal pemerintahan.
Indikator juga menilai tingginya tingkat kepuasan tidak muncul tanpa konteks. Selain bertumpu pada basis dukungan elektoral Prabowo, terdapat faktor kesinambungan dukungan politik sebelumnya yang ikut memperkuat legitimasi. Dalam penilaian tersebut, perluasan kelompok yang menyatakan “sangat puas” dipandang penting untuk memperkuat fondasi dukungan jangka panjang.
Dalam temuan survei, pemberantasan korupsi muncul sebagai alasan paling dominan di balik kepuasan publik. Hal ini ditafsirkan sebagai perubahan persepsi, dari penekanan pada citra ketegasan menuju penilaian atas agenda perbaikan tata kelola. Faktor lain yang turut disebut responden meliputi bantuan sosial, program kerja yang dinilai berjalan baik, serta kepemimpinan yang dianggap tegas dan berani.
Sejumlah program dan isu juga dikaitkan dengan sentimen positif, seperti program makan bergizi gratis, perhatian terhadap kelompok rentan, serta persepsi meningkatnya keamanan. Dalam konteks penilaian publik, kepuasan cenderung menguat ketika manfaat kebijakan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Meski demikian, survei tersebut juga mencatat adanya kritik. Sebagian responden menilai bantuan belum merata, sementara yang lain menganggap bukti kinerja belum sepenuhnya terlihat atau program belum berjalan optimal. Isu stabilitas ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja turut menjadi sorotan, menandakan aspek kesejahteraan tetap menjadi ukuran penting dalam menilai kinerja pemerintah.
Dari sisi demografi, dukungan generasi muda menjadi salah satu catatan. Kelompok Gen Z yang disebut sebelumnya menjadi basis pemilih masih menunjukkan kecenderungan positif. Variasi kepuasan antarwilayah dan kelompok etnis juga tercatat, namun bahkan pada wilayah dengan tingkat kepuasan paling rendah, mayoritas responden tetap menyatakan puas.
Survei ini melibatkan lebih dari seribu responden melalui wawancara tatap muka, dengan margin of error sekitar tiga persen. Indikator menyebut distribusi sampel dilakukan secara proporsional disertai pengawasan kualitas data.
Sementara itu, respons pemerintah terhadap hasil survei digambarkan tetap tenang. Istana menegaskan fokus utama bukan mengejar popularitas, melainkan mempercepat program yang ditujukan untuk mengurangi beban masyarakat. Pemerintah menyebut agenda seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, dan perbaikan layanan kesehatan sebagai pekerjaan besar yang perlu ditangani melalui kerja keras.
Hasil survei tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang tinggi, sekaligus menyisakan pekerjaan rumah pada pemerataan bantuan, pembuktian kinerja program, dan isu ekonomi serta lapangan kerja. Dalam situasi ini, kepuasan yang besar dipandang sebagai ruang kepercayaan bagi pemerintah untuk melanjutkan agenda kebijakan, sembari menjawab kritik yang masih muncul di masyarakat.

