Cek Fakta: Benarkah Varian Omicron Lebih Cepat Menular?

Cek Fakta: Benarkah Varian Omicron Lebih Cepat Menular?

Varian Omicron, yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada 11 November 2021, dinilai memiliki kemampuan penularan yang lebih cepat dibanding varian COVID-19 sebelumnya. Namun, sejumlah aspek terkait tingkat penularan, dampak klinis, dan efektivitas vaksin terhadap varian ini masih terus dikaji oleh para peneliti.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyebut Omicron berpotensi menular hingga 500 persen lebih cepat dibanding varian awal yang pertama kali teridentifikasi di Wuhan, China. Ia juga menyampaikan kemungkinan varian tersebut sudah ada di Indonesia, meski pernyataan ini bersifat dugaan.

Pada 26 November 2021, World Health Organization (WHO) menetapkan Omicron sebagai varian yang perlu menjadi perhatian, beberapa hari setelah varian ini terdeteksi di Afrika Selatan. WHO disebut tengah berkoordinasi dengan banyak peneliti di berbagai negara untuk memahami bagaimana Omicron dapat memengaruhi pandemi ke depan, termasuk kaitannya dengan potensi gelombang COVID-19 pada 2022.

Salah satu fokus utama kajian saat ini adalah seberapa efektif vaksin COVID-19 yang sudah digunakan terhadap risiko infeksi Omicron, serta apakah infeksi pada orang yang telah divaksin dapat menimbulkan kondisi yang serius atau tidak. Sejauh ini, muncul anggapan bahwa Omicron dapat menurunkan efektivitas vaksin. Hal ini dikaitkan dengan dugaan bahwa Omicron merupakan mutasi dari dua varian sebelumnya, yakni Beta dan Gamma.

Kekhawatiran lain muncul karena pada Omicron dilaporkan terdapat 32 mutasi pada protein spike. Sebagai perbandingan, varian Delta yang juga dikenal menular disebut memiliki delapan mutasi. Meski demikian, jumlah mutasi pada protein spike tidak otomatis menjadi indikator utama tingkat bahaya suatu varian. Namun, semakin banyak mutasi, semakin besar kemungkinan sistem kekebalan tubuh kesulitan mengenali virus, sehingga varian tersebut diduga dapat lolos dari respons imun.

Meski berbagai dugaan berkembang, para ahli menekankan bahwa tingkat keparahan infeksi Omicron belum dapat disimpulkan. Dr. Ulrich Elling, ahli biologi molekuler di Institute of Molecular Biotechnology di Wina, berpendapat infeksi varian baru belum tentu lebih parah dibanding varian sebelumnya.

Terkait kemunculannya, Profesor Francois Balloux, Ketua Sistem Biologi Komputasi di University College London, menyampaikan kemungkinan virus corona bermutasi menjadi Omicron saat menginfeksi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah, misalnya akibat HIV/AIDS yang tidak diobati.

Dalam upaya menekan penyebaran, salah satu langkah yang disebutkan adalah penangguhan perjalanan dari dan ke negara yang telah terdeteksi keberadaan Omicron. Meski pembatasan dilakukan, termasuk oleh 27 negara Uni Eropa yang menangguhkan perjalanan dari dan ke tujuh negara di Afrika bagian selatan, tetap ada kemungkinan varian tersebut telah menyebar ke negara lain.

Untuk konteks Indonesia, langkah pencegahan yang ditekankan adalah menjaga kebersihan, membatasi bepergian, serta melanjutkan vaksinasi bagi yang belum menerima vaksin COVID-19. Penerapan pola hidup sehat juga disebut sebagai langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi tubuh.