Serangan HAMAS pada 7 Oktober yang disebut dilakukan dengan kombinasi peluncuran roket, pasukan udara menggunakan paragliding, serta pergerakan cepat dari darat, mengejutkan perhatian publik global. Dalam narasi tulisan ini, sistem pertahanan Israel Iron Dome yang biasanya disebut mampu menahan ratusan roket, dilaporkan tetap dapat ditembus sehingga sejumlah rudal Palestina lolos ke wilayah Israel.
Setelah serangan tersebut, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant disebut menyatakan akan “meratakan Gaza” serta melontarkan istilah “manusia binatang” terhadap pihak di wilayah itu. Tulisan ini juga menggambarkan pembalasan Israel sebagai serangan udara yang menghancurkan bangunan-bangunan sipil, dengan alasan lokasi tersebut terdeteksi sebagai titik peluncuran roket. Israel, menurut tulisan ini, juga menegaskan bahwa HAMAS menggunakan warga sipil sebagai human shield atau tameng hidup.
Di tengah eskalasi konflik, media cetak dan daring internasional dinilai memainkan peran besar dalam membentuk persepsi publik melalui pilihan kata. Artikel opini ini berangkat dari anggapan bahwa simpati terhadap Palestina relatif lebih mudah muncul karena posisi Palestina dipandang sebagai pihak yang terjajah, sementara Israel digambarkan sebagai pihak kolonialis yang sejak 1948 merampas hak bangsa Palestina atas tanah airnya.
Penulis menyoroti bagaimana pemberitaan internasional—khususnya media Barat—dinilai dapat membuat situasi menjadi kabur ketika menentukan pihak yang paling bertanggung jawab atas rangkaian kekerasan. Salah satu contoh yang diangkat adalah peristiwa hancurnya Rumah Sakit Al Ahli Baptist di Gaza yang disebut menewaskan ratusan orang, termasuk pasien, dokter, dan pengungsi.
Dalam contoh tersebut, penulis mengutip sejumlah judul media Barat yang menggunakan kata seperti “blast” atau “explosion”. CNN disebut memakai judul “Gaza hospital explosion sparks anger and protests in Arab countries”, sementara The New York Times disebut menulis “Devastation in gaza after hospital blast”. Washington Post disebut mengangkat tema serupa melalui judul “Fury after Gaza hospital blast surges across Middle East”, dan Deutsche Welle disebut menurunkan judul “Gaza hospital blast sparks protests worldwide”.
Menurut penulis, pemilihan kata “blast” atau “explosion” dinilai membentuk kesan bahwa peristiwa tersebut merupakan ledakan yang berasal dari dalam, bukan akibat serangan dari luar. Penulis menilai diksi itu dapat memengaruhi persepsi publik dan menjauhkan kemungkinan publik menyimpulkan Israel sebagai pelaku serangan, yang dalam tulisan ini dikaitkan dengan prinsip perlindungan personel medis dalam hukum humaniter internasional.
Tulisan ini juga menyinggung contoh lain dari wawancara Sky News Inggris dengan aktivis HAM Palestina Yara Eid. Penulis menyatakan Sky News menggunakan kata “killed” untuk korban dari pihak Israel, sementara untuk korban Palestina digunakan kata “died”. Perbedaan dua istilah itu dinilai berpengaruh karena “killed” dianggap mengandaikan adanya pelaku, sedangkan “died” dipandang lebih multitafsir.
Dengan contoh-contoh tersebut, penulis berpendapat bahwa “serangan” dalam konteks konflik tidak hanya terjadi lewat perang konvensional, tetapi juga melalui narasi media—baik tulisan maupun audio visual—yang semakin masif di era media sosial. Penulis menilai propaganda diksi dapat berujung pada dehumanisasi warga Palestina dan membuat korban Palestina dipersepsikan semata sebagai angka statistik.
Artikel opini ini mendorong penggunaan media sosial—seperti Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube—sebagai ruang untuk mencari, mengumpulkan, dan membangun narasi yang disebut sejalan dengan fakta di lapangan. Penulis juga menyinggung kematian jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh, yang disebut ditembak sniper tentara Israel, serta peristiwa penyerangan terhadap orang-orang yang mengantar pemakamannya. Penulis menyimpulkan bahwa perlawanan juga dapat dilakukan melalui “resistensi intelektual”, termasuk dengan membangun pilihan kata yang dinilai sesuai fakta untuk mendukung kebebasan Palestina.

