Sebuah tulisan opini mempertanyakan apakah Kompasiana masih dapat dipulihkan sebagai ruang politik publik. Menurut pandangan tersebut, jawabannya bergantung pada keberanian publik untuk melawan praktik kurasi dan menulis melampaui batas-batas yang dianggap telah ditetapkan.
Dalam tulisan itu, aktivitas menulis diposisikan bukan untuk menyenangkan redaksi atau admin, melainkan untuk menyuarakan hal-hal yang dinilai tidak aman dibicarakan. Politik dalam konteks ini tidak dimaknai sebagai keberpihakan partisan, tetapi sebagai keberanian menyingkap relasi kuasa yang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis juga menilai bahwa menulis di ruang yang terkurasi menuntut kesadaran untuk melawan depolitisasi. Publik didorong untuk menghidupkan kembali etos awal Kompasiana, yang disebut merujuk pada etos PK Ojong: menulis bukan demi viralitas, melainkan demi kebenaran.
Dalam konteks modern, tulisan itu mengajukan gagasan untuk menolak apa yang disebut sebagai “algoritma keamanan” dan menggantinya dengan “algoritma kesadaran”. Artinya, menulis diarahkan untuk mengguncang dan memantik kesadaran, bukan untuk meninabobokan.
Jika hal tersebut tidak dilakukan, Kompasiana dinilai berisiko menjadi ruang yang kehilangan makna di tengah keramaian. Ia digambarkan dapat berubah menjadi arsip digital dari publik yang jinak: mahir berbicara tentang dirinya sendiri, namun kehilangan bahasa untuk membicarakan nasib bersama.
Tulisan itu juga menilai bahwa bentuk kuasa penjinakan yang paling halus terjadi ketika orang merasa bebas, padahal sebenarnya telah “dikurung” dalam estetika kebebasan. Karena itu, publik disebut memiliki tugas bukan sekadar menulis, melainkan mengembalikan makna politik ke dalam tulisan—politik kesadaran dan penyingkapan kuasa, bukan perebutan kuasa partisan.
Menurut pandangan tersebut, hanya dengan cara itu Kompasiana dapat kembali pada rohnya: bukan sebagai ruang depolitisasi, melainkan ruang rekonstruksi moral dan intelektual. Di bagian akhir, tulisan itu menegaskan bahwa jika publik diam dan media menjadi jinak, demokrasi dikhawatirkan tinggal nama, sementara depolitisasi bekerja secara efektif melalui pembiasaan menulis aman demi performa semata.