Pemilihan presiden putaran kedua di El Salvador yang digelar pada Minggu (9/3) berakhir dengan kemenangan sangat tipis bagi Salvador Sanchez Ceren, kandidat yang diusung Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti (FMLN). Hasil akhir yang diumumkan Pengadilan Tinggi Pemilu El Salvador pada Kamis (13/3) menunjukkan Sanchez Ceren meraih 50,11% suara, mengungguli Norman Quijano dari Aliansi Republiken Nasional (ARENA) yang memperoleh 49,99%.
Selisih kemenangan hanya 6.364 suara atau sekitar 0,2%. Meski perhitungan resmi belum rampung pada malam pemungutan suara, pendukung Sanchez Ceren sudah turun ke jalan merayakan keunggulan sementara. Sanchez Ceren sempat hadir di tengah massa, namun tidak mendeklarasikan diri sebagai presiden terpilih dan hanya menyampaikan keyakinan bahwa pihaknya akan menang.
Di sisi lain, Quijano dan pimpinan ARENA pada Minggu malam juga mengklaim kemenangan ketika suara yang masuk baru sekitar 70%. Klaim tersebut muncul meski Pengadilan Tinggi Pemilu telah melarang kandidat dan partai menyatakan kemenangan sebelum penghitungan resmi selesai, mengingat selisih suara yang sangat tipis.
Setelah hasil akhir diumumkan, kubu kanan disebut berupaya menolak mengakui hasil pemilu dan mempertanyakan legitimasi presiden terpilih. Dalam proses penghitungan, perwakilan ARENA dilaporkan meninggalkan tahapan penghitungan suara di lembaga penyelenggara pemilu, lalu memobilisasi pendukung ke kantor KPU El Salvador dengan mengangkat isu dugaan kecurangan.
Pada malam pemilihan, Quijano mengingatkan pendukungnya agar menjaga agar “kemenangan mereka tidak dicuri seperti di Venezuela”. Ia juga menyatakan siap “berperang” untuk mempertahankan klaim kemenangannya, serta meminta dunia internasional dan Angkatan Bersenjata El Salvador untuk “mempertahankan demokrasi” dari kecurangan.
Quijano mengklaim memiliki bukti terkait 20.000 pemilih yang disebutnya menggunakan hak pilih dua kali. Namun, dalam laporan ini disebutkan bahwa bukti tersebut tidak pernah dipaparkan kepada media atau lembaga berwenang. Quijano juga meminta Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) untuk memediasi perselisihan terkait hasil pemilu.
Dalam pemberitaan ini, situasi di El Salvador dibandingkan dengan dinamika politik Venezuela pasca pemilu April 2013, ketika Nicolas Maduro menang tipis atas Henrique Capriles Radonski. Oposisi Venezuela saat itu menggugat hasil pemilu, menuding kecurangan, dan mendesak penghitungan ulang 100%, serta mendorong mobilisasi massa. Disebutkan pula bahwa sejumlah pemantau internasional, termasuk mantan Presiden AS Jimmy Carter, menilai pemilu Venezuela berjalan demokratis.
Laporan ini juga menyoroti peran J.J. Rendón, konsultan strategi politik kelahiran Venezuela yang disebut menentang revolusi Bolivarian. Rendón disebut pernah berkontribusi dalam situasi pasca pemilu Venezuela dan di El Salvador dikabarkan disewa ARENA sebagai konsultan luar selama kampanye.
Kemenangan Sanchez Ceren sebelumnya telah diperkirakan sejak putaran pertama pada Februari, ketika ia meraih 49,2% suara, sedangkan Quijano memperoleh 38,9%. Sejumlah jajak pendapat menjelang putaran kedua, seperti CID-Gallup, disebut memperkirakan Sanchez Ceren akan unggul 10 hingga 16 poin.
Menjelang pemungutan suara putaran kedua, ARENA disebut melakukan berbagai langkah untuk memperkuat dukungan, termasuk memobilisasi pemilih dari kota lain dan dari luar negeri (Honduras), serta membayar pendukungnya untuk memperbarui kartu pemilih. Situasi ini disebut memicu kerumitan administrasi di pusat pendaftaran pemilih. Pada periode tersebut, Quijano menuding KPU menolak pendukung ARENA yang hendak memperbarui kartu pemilih.
Di tengah meningkatnya ketegangan pasca pemilu, pada Rabu (12/3) Menteri Pertahanan El Salvador Jenderal David Munguia menyatakan militer tidak akan ikut campur dalam perselisihan hasil pemilu. Ia menegaskan Angkatan Bersenjata menghormati hasil pemilu, siapapun pemenangnya. Pernyataan itu disebut meredam kekhawatiran akan potensi kekacauan politik setelah pemungutan suara.