Seorang mahasiswa bernama Ricardo Razaq Alghivieri (20) tewas setelah tertimbun reruntuhan rumahnya yang roboh diterjang banjir di Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat (12/6/2026). Peristiwa itu terjadi di kompleks Perumahan Griya Mahadewa, Banjar Dinas Seraya, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, menyoroti kondisi lokasi rumah korban dan menduga ada persoalan tata ruang di kawasan perumahan tersebut. “Setelah ditinjau, itu perumahan warga. Kemungkinan ada sesuatu yang memang langgar tata ruang. Masih didalami,” kata Supriatna di Buleleng, Jumat.
Menurut Supriatna, rumah yang roboh berada di area berdekatan dengan aliran sungai, sehingga dinilai rentan terhadap bencana. Ia juga menyebut kondisi tanah di lokasi tersebut labil karena merupakan tanah urugan. “Rumah yang roboh tanah cukup labil. Karena tanah urugan. Sehingga ada air cukup besar, tergerus rumahnya roboh menimpa warga atau penghuni rumah,” ujarnya.
Supriatna meminta dinas terkait melakukan evaluasi, terutama dalam proses penerbitan izin pembangunan. “Ini jadi perhatian kami. Khususnya kepada dinas terkait dalam pengeluaran izin,” ungkapnya.
Insiden yang menewaskan Ricardo terjadi saat hujan deras menyebabkan air sungai meluap ke kawasan perumahan. Arus air kemudian menghantam bagian belakang rumah korban hingga bangunan ambruk.
Sebelum rumah roboh, Ricardo sempat meminta ibunya, Siti Sofana Syamsia (43), untuk keluar setelah melihat bangunan mulai retak. “Waktu saya masuk ke depan pintu kamar, bangunan sudah retak. Dia takut saya kenapa-kenapa, makanya saya disuruh keluar,” ujar Siti.
Tidak lama berselang, rumah ambruk diterjang arus. Siti mengatakan kejadian berlangsung hanya dalam hitungan detik. Ia juga mengaku baru mengetahui bahwa rumah tersebut pernah roboh sebelumnya. “Saya baru dua tahun tinggal di sini. Saya beli rumah ini supaya dekat dengan kampus anak saya. Ternyata saya baru tahu kalau rumah ini dulu pernah roboh juga,” katanya.