Ruang Pengetahuan di Pusat Kota Dinilai Penting untuk Menjaga Kreativitas dan Identitas Perkotaan

Ruang Pengetahuan di Pusat Kota Dinilai Penting untuk Menjaga Kreativitas dan Identitas Perkotaan

Perluasan kampus ke kawasan perkotaan baru dinilai membuka peluang pembangunan infrastruktur riset yang modern dan terintegrasi. Langkah ini dipandang dapat menciptakan kondisi bagi pengembangan pendidikan tinggi berskala besar yang lebih terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus menjawab kebutuhan ekonomi berbasis pengetahuan.

Namun, perencanaan tata ruang universitas disebut tidak bisa dilakukan sebatas relokasi mekanis. Di banyak kota besar dunia, ketika universitas berkembang ke pinggiran kota, fasilitas akademik di pusat kota tetap dipertahankan dan bahkan dikembangkan dengan fungsi baru.

Ruang-ruang pengetahuan di pusat kota itu dapat bertransformasi menjadi lembaga penelitian, pusat sains dan teknologi, laboratorium yang berkolaborasi dengan bisnis, maupun ruang inovasi. Keberadaannya dinilai dapat menjadi jembatan langsung antara universitas, dunia usaha, dan ekosistem startup. Sejumlah universitas terkemuka seperti Harvard, MIT, Oxford, dan Sorbonne disebut masih mempertahankan fasilitas utama di kawasan perkotaan, meski kampus-kampus baru juga berkembang di wilayah pinggiran.

Menurut pandangan yang disampaikan, kota yang hanya dipenuhi pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran, tetapi minim lembaga penelitian, perpustakaan, atau ruang kuliah universitas, akan kesulitan mempertahankan inovasi dalam jangka panjang. Pusat-pusat pengetahuan di jantung kota dipandang penting untuk mempersempit jarak antara penelitian ilmiah dan penerapan praktis, mempertemukan ilmuwan dan pelaku bisnis, serta mempercepat perubahan ide kreatif menjadi produk dan nilai ekonomi.

Pada akhirnya, kota maju tidak hanya diukur dari keberadaan gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan, melainkan juga dari kedalaman intelektualnya. Ruang yang memupuk kreativitas, melestarikan kenangan akademis, dan menopang kehidupan spiritual antargenerasi disebut menjadi bagian dari penanda kemajuan tersebut.

Dalam struktur perkotaan modern, universitas dan lembaga penelitian, bersama lembaga budaya, sejarah, dan keagamaan, disebut membentuk “poros memori” kota. Ruang-ruang ini dinilai menciptakan kedalaman identitas dan mencegah kota kehilangan jati dirinya di tengah urbanisasi yang cepat.

Selain itu, fasilitas ilmiah dan pendidikan di dalam kota juga dipandang menciptakan ruang tenang yang dibutuhkan di tengah kehidupan perkotaan yang semakin padat. Dengan arsitektur khas dan kepadatan tanaman hijau yang tinggi, banyak kampus universitas dan lembaga penelitian turut berperan sebagai ruang hijau yang membantu mengatur lingkungan hidup kota.

Karena itu, pengembangan kawasan perkotaan universitas baru di pinggiran kota dinilai perlu diiringi upaya pelestarian dan peningkatan peran ruang pengetahuan tradisional di pusat kota. Fasilitas tersebut dapat diorganisasi ulang agar lebih berfokus pada riset mendalam, pelatihan pascasarjana, kolaborasi dengan bisnis, serta mendorong ekosistem inovasi.

Pandangan ini menekankan bahwa struktur perkotaan yang berkelanjutan semestinya mampu berkembang ke ruang-ruang baru sambil tetap menjaga “inti intelektual” yang terbentuk dari waktu ke waktu. Perencanaan kota tidak hanya menyangkut lahan dan infrastruktur, tetapi juga penataan ruang-ruang intelektual yang membangun kedalaman kota selama beberapa generasi.

Artikel ini memuat pandangan Profesor Madya Phan Thanh Binh, mantan Ketua Komite Kebudayaan, Pendidikan, Pemuda, dan Anak-anak Majelis Nasional.