Badan Riset Daerah (Brida) Sumenep bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meneliti fenomena genangan yang kerap terjadi di wilayah perkotaan Sumenep. Hasil kajian awal menyebutkan, peristiwa yang muncul hampir setiap tahun itu dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi alam hingga persoalan tata ruang dan infrastruktur.
Ketua Tim Penelitian ITS, Ardy Maulidy Navastara, menjelaskan faktor hidrometeorologi seperti curah hujan tinggi berperan besar terhadap munculnya genangan. Namun, ia menegaskan faktor tersebut bukan satu-satunya penyebab.
Ardy menyebut krisis tata ruang dan infrastruktur juga dapat memicu genangan. Menurutnya, penataan ruang, khususnya di wilayah perkotaan Sumenep, sebagian dinilai belum maksimal.
Selain itu, elevasi atau ketinggian suatu wilayah dibanding area sekitarnya turut berkontribusi. Ardy menilai persoalan yang kompleks ini membutuhkan penanganan yang cepat dan terukur.
Terkait sistem drainase, Ardy mengatakan secara umum kondisinya sudah cukup baik. Meski demikian, ia menyoroti perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan sumbatan saluran air. Ia menyatakan timnya masih berupaya menggali data lebih mendalam untuk menemukan akar persoalan.
Dalam penelitian tersebut, Ardy juga menilai kebijakan yang telah diambil organisasi perangkat daerah (OPD) hasilnya sudah cukup baik. Ia menambahkan, fenomena yang terjadi di Sumenep tidak termasuk banjir karena genangan air berlangsung kurang dari delapan jam. Meski begitu, ia menekankan banjir maupun genangan tetap dapat memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Senada, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sumenep, Eri Susanto, menyatakan peristiwa di wilayah perkotaan tidak masuk kategori banjir karena genangan tidak lebih dari delapan jam. Ia juga menyebut faktor elevasi menjadi salah satu penyebab, terutama di wilayah pinggiran timur perkotaan yang mengalami penurunan.
Menurut Eri, ketika hujan turun bersamaan dengan air laut pasang, wilayah daratan—khususnya titik yang lebih rendah—lebih mudah tergenang. Ia kembali menyoroti masalah sampah yang dibuang ke saluran air sehingga menimbulkan sumbatan dan menghambat aliran. Eri mencontohkan, saat hujan turun, sampah terbawa masuk ke Kali Marengan.
Eri menambahkan, diperlukan normalisasi pada beberapa drainase di wilayah timur yang saat ini dimiliki PT Garam. Upaya tersebut, kata dia, membutuhkan koordinasi lanjutan dengan badan usaha milik negara (BUMN) untuk memperoleh izin normalisasi.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Sumenep berencana merumuskan hasil riset dalam detail engineering design (DED). Dokumen tersebut akan digunakan sebagai bahan penyusunan kebijakan yang lebih komprehensif untuk penanggulangan banjir maupun genangan.

