Kota Ho Chi Minh menempatkan sistem metro sebagai poros pembangunan strategis dalam upaya menata ulang ruang perkotaan, meningkatkan daya saing, dan memperbaiki kualitas hidup warga. Arah ini ditegaskan melalui Resolusi 09, yang memandang metro bukan sekadar solusi kemacetan, melainkan instrumen untuk membentuk ulang cara kota berfungsi.
Selama bertahun-tahun, Kota Ho Chi Minh berkembang terutama melalui perluasan horizontal. Penduduk bermigrasi ke kawasan pinggiran, sementara pusat kota mengalami pertumbuhan pesat kawasan perumahan, gedung tinggi, dan pusat komersial. Perkembangan tersebut berlangsung lebih cepat dibanding penguatan sistem transportasi umum.
Ketidakseimbangan ini mendorong ketergantungan yang semakin besar pada kendaraan pribadi. Dampaknya terlihat pada kemacetan lalu lintas, polusi lingkungan, serta infrastruktur kota yang kian terbebani. Dalam konteks kota metropolitan berpenduduk besar, dominasi kendaraan pribadi juga memunculkan biaya sosial yang tinggi, mulai dari waktu perjalanan yang lebih lama, produktivitas kerja yang menurun, peningkatan stres psikologis, hingga penurunan kualitas lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, persoalan transportasi dipandang tidak hanya sebagai isu lalu lintas, melainkan berkaitan langsung dengan daya saing dan pembangunan berkelanjutan kota. Resolusi 09 kemudian menempatkan metro dalam strategi menyeluruh yang mencakup restrukturisasi ruang kota, pengembangan ekonomi hijau, kota pintar, serta peningkatan kualitas hidup warga.
Dalam resolusi tersebut, kota diminta menyusun rencana jangka panjang hingga 100 tahun dengan model multipolar dan multi-pusat yang saling terhubung. Model pengembangan perkotaan juga diarahkan untuk terintegrasi dengan transportasi publik melalui pendekatan pengembangan berorientasi transportasi atau Transport-Oriented Development (TOD).
Resolusi 09 menekankan perlunya terobosan infrastruktur dengan memprioritaskan investasi untuk menyelesaikan jaringan kereta api perkotaan. Penekanan ini menunjukkan perubahan cara pandang: metro tidak lagi diposisikan hanya untuk mengurai kemacetan, melainkan sebagai alat membentuk kembali ruang kota dan mendorong pembangunan perkotaan.
Pengalaman internasional disebut menunjukkan kota-kota berkinerja tinggi seperti Tokyo, Seoul, Singapura, dan Shanghai berkembang dengan bertumpu pada transportasi publik berkapasitas tinggi, dengan metro sebagai “tulang punggung”. Dalam kerangka ini, metro tidak hanya memindahkan orang, tetapi juga memengaruhi distribusi penduduk, cara aktivitas ekonomi bergerak, serta bagaimana kota beroperasi sehari-hari.
Seiring meluasnya jaringan metro, struktur perkotaan juga berubah. Pusat-pusat pertumbuhan baru cenderung terbentuk di sekitar stasiun; penduduk dan bisnis bergerak mengikuti jalur angkutan umum; dan ruang kota menjadi lebih terkonsentrasi serta efisien. Dampak lanjutannya adalah penurunan biaya sosial transportasi, peningkatan konektivitas, dan terbukanya peluang pembangunan baru di berbagai kawasan.
Dalam pendekatan ini, TOD dipandang sebagai kunci untuk mewujudkan peran metro. TOD tidak dimaknai sekadar membangun gedung tinggi di sekitar stasiun, melainkan menata kehidupan perkotaan agar warga dapat menjangkau rumah, tempat kerja, sekolah, rumah sakit, pusat belanja, dan layanan publik dalam jarak yang nyaman tanpa bergantung berlebihan pada kendaraan pribadi.
Dari perspektif jangka panjang, investasi metro diposisikan sebagai investasi untuk daya saing kota. Kota yang ingin menjadi pusat keuangan internasional atau pusat inovasi dinilai tidak dapat membiarkan warganya menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk bepergian. Demikian pula, kota yang ingin menarik talenta berkualitas tinggi dipandang perlu meninggalkan pola pembangunan yang terfragmentasi, kelebihan beban, dan sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi.
Pada akhirnya, nilai utama pembangunan metro dalam kerangka Resolusi 09 tidak semata diukur dari panjang jalur rel atau jumlah stasiun. Penekanannya terletak pada tekad Kota Ho Chi Minh untuk mengubah model pembangunan perkotaan dan merancang ulang arah pertumbuhan kota untuk beberapa dekade mendatang.