Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof Lusmeilia Afriani menegaskan bahwa krisis di perguruan tinggi tidak selalu berujung pada runtuhnya reputasi. Menurutnya, krisis justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola dan memulihkan kepercayaan publik apabila dikelola secara terbuka, adaptif, dan akuntabel.
Pernyataan itu disampaikan Lusmeilia saat menjadi pembicara dalam Insight Session Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Komunikasi Strategis bertema “Manajemen Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital”. Kegiatan tersebut digelar HUMAS INDONESIA bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Di hadapan pimpinan perguruan tinggi nasional yang hadir dalam forum, Lusmeilia memaparkan pengalaman Unila membangun kembali reputasi institusi melalui penguatan Good University Governance (GUG) setelah sempat menghadapi krisis beberapa tahun lalu.
Ia menyoroti dinamika era digital yang membuat persoalan internal kampus dapat berkembang menjadi isu nasional dalam waktu singkat. Karena itu, ia menilai perguruan tinggi perlu memiliki sistem manajemen krisis yang terukur dan cepat, namun tetap mengedepankan akurasi informasi.
“Ketahanan reputasi hanya bisa dibangun di atas fondasi akuntabilitas dan transparansi. Fungsi kehumasan sekarang bukan lagi sekadar membuat siaran pers, tetapi menjadi garda terdepan menjaga reputasi dan keberlanjutan institusi,” kata Lusmeilia.
Dalam paparannya, Unila menerapkan empat pilar utama dalam pengelolaan reputasi. Pilar tersebut meliputi penguatan nilai integritas institusi, pembangunan komunikasi krisis berbasis tata kelola yang baik, penempatan reputasi sebagai aset strategis melalui kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, serta penyelenggaraan komunikasi publik yang efektif, empatik, dan berbasis data.
Lusmeilia menyebut capaian strategi tersebut tercermin dari kinerja kehumasan Unila. Sepanjang 2022–2025, Unila meraih belasan penghargaan pada Anugerah Humas Diktisaintek maupun Anugerah Media Humas, dari kategori siaran pers, laman, majalah, hingga media sosial.
Sementara itu, CEO HUMAS INDONESIA Asmono Wikan menilai pengalaman Unila dapat menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lain dalam mengelola komunikasi krisis. Ia menilai Unila menunjukkan bahwa krisis dapat diubah menjadi peluang untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan reputasi institusi.
“Kita tahu perjalanan Unila mengelola komunikasi krisis tidak mudah. Namun Unila mampu bangkit dan justru memiliki nilai lebih tinggi berkat kepemimpinan yang terbuka dan tata kelola humas yang matang,” ujar Asmono.
Forum yang diikuti sekitar 150 pimpinan dan praktisi humas perguruan tinggi dari seluruh Indonesia itu juga diharapkan menghasilkan Whitepaper Peta Jalan Komunikasi Krisis Perguruan Tinggi Nasional sebagai acuan pengelolaan krisis di lingkungan pendidikan tinggi.