Rangkuman Cek Fakta Sepekan: Kabar Keliru Menkeu Purbaya Sakit hingga Video Trump Disebut Stroke

Rangkuman Cek Fakta Sepekan: Kabar Keliru Menkeu Purbaya Sakit hingga Video Trump Disebut Stroke

Media sosial dalam sepekan terakhir diramaikan berbagai misinformasi dan disinformasi yang memanfaatkan isu-isu aktual. Sejumlah narasi yang beredar antara lain kabar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa jatuh sakit, video yang mengeklaim bantuan dana dari Gubernur Papua, hingga rekaman yang menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkena stroke.

Berikut rangkuman penelusuran fakta terhadap sejumlah klaim yang beredar agar publik tidak terjebak informasi keliru.

Purbaya membantah kabar dirawat di rumah sakit

Pada awal Mei 2026, muncul kabar di media sosial yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah dirawat di rumah sakit. Kabar tersebut dibantah langsung oleh Purbaya melalui unggahan aktivitasnya di media sosial, di antaranya berenang dan pergi ke mal bersama istrinya.

Kementerian Keuangan juga memastikan Purbaya dalam kondisi sehat. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro pada Minggu (3/5/2026) menyatakan, “Iya, beliau sehat-sehat saja.”

Video bantuan Rp 147 miliar di Papua terbukti manipulatif

Sebuah video yang beredar di media sosial mengeklaim Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri mengumumkan bantuan dana senilai Rp 147 miliar, dengan klaim setiap orang akan menerima Rp 300 juta.

Hasil pemeriksaan menunjukkan suara Mathius dalam video yang menyebut bantuan Rp 147 miliar merupakan hasil rekayasa menggunakan artificial intelligence (AI). Sementara itu, gambar video diambil dari keterangan pers seusai pelantikan Mathius sebagai Gubernur Papua di Istana Negara pada 8 Oktober 2025.

Hoaks soal Kemenag dan NU disebut membela kasus pencabulan di Pati

Di tengah penanganan kasus pencabulan santriwati di Pati—dengan tersangka yang merupakan pengasuh pondok pesantren ditangkap polisi pada Kamis (7/5/2026)—muncul unggahan yang mengeklaim Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama menyebut kasus tersebut sebagai hoaks.

Berdasarkan konfirmasi, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar menegaskan tidak ada pernyataan Kemenag maupun NU yang menyebut kasus itu hoaks. Ia memastikan informasi tersebut tidak benar.

Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menegaskan tidak ada toleransi terhadap kekerasan dan pelecehan seksual, termasuk di institusi pendidikan. “Sikap saya terkait tindak kekerasan seksual itu jelas dan tegas. Tidak ada toleransi untuk tindak kekerasan seksual. Saya tidak pernah menoleransi sedikit pun tindakan yang mencederai martabat kemanusiaan,” kata Nasaruddin, Rabu (6/5/2026).

Ketua PBNU Bidang Keagamaan Ahmad Fahrur Rozi menilai pencabulan tersebut merusak marwah pesantren. “Menyatakan bahwa pelaku telah mencederai marwah pesantren dan merusak kepercayaan publik; karena itu tidak boleh ada perlindungan, pembiaran, atau kompromi kepada pelaku dalam bentuk apa pun,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Narasi keliru: Kartini disebut teladan poligami

Di media sosial, beredar narasi yang menyebut Raden Ajeng Kartini sebagai teladan poligami karena disebut menjadi istri ketiga Bupati Rembang serta diklaim ibunya merupakan istri ketiga Bupati Jepara.

Penelusuran menunjukkan ayah Kartini, Raden Adipati Ario Sosroningrat, berdarah ningrat. Sementara ibunya, Ngasirah, merupakan gadis biasa. Ngasirah disebut sebagai istri pertama, tetapi statusnya sebagai rakyat jelata membuatnya tidak dapat menjadi istri utama.

Adapun Kartini disebut bukan istri ketiga, melainkan istri keempat KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Sejauh ini tidak ditemukan surat atau bukti sejarah yang menunjukkan Kartini mendukung poligami. Sebaliknya, Kartini pernah menyatakan keberatan terhadap praktik poligami yang dilakukan atas nama agama melalui surat kepada sahabatnya di Belanda, Estelle H Zeehandelaar (Stella). Namun, Stella tidak pernah memperoleh jawaban mengenai alasan Kartini akhirnya bersedia menjadi istri keempat Bupati Rembang.

Dalam konteks sejarah, Kartini hidup pada masa patriarki dan feodalisme yang masih mengakar.

Video Trump disebut stroke, ternyata konteksnya keliru

Video lain yang beredar di media sosial memperlihatkan Donald Trump dan diklaim mengalami pecah pembuluh darah otak atau stroke. Hasil penelusuran menunjukkan video tersebut disebarkan dengan konteks yang keliru.

Rekaman aslinya merupakan proses evakuasi Trump setelah menjadi sasaran penembakan saat menghadiri kampanye akbar pemilihan presiden AS di Butler, Pennsylvania, pada 13 Juli 2024.