Media sosial kini tidak lagi sekadar ruang hiburan, melainkan telah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari. Sejumlah platform seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, dan YouTube membuat arus informasi bergerak cepat dan dapat diakses luas oleh pengguna. Dalam konteks ini, media sosial dipahami sebagai perangkat yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi, dan pada kondisi tertentu berkolaborasi.
Perkembangan tersebut turut memunculkan wajah-wajah public figure baru yang sebelumnya lebih dikenal melalui media massa. Di ruang digital, public figure tidak hanya merujuk pada artis atau selebriti, tetapi juga mencakup influencer, selebgram, dan kategori lain yang lahir dari ekosistem media sosial. Kehadiran mereka kerap dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan, termasuk promosi produk maupun penyebaran informasi.
Penggunaan public figure sebagai penyampai pesan dinilai efektif karena mampu menarik perhatian audiens. Dalam praktik promosi, figur yang dikenal publik sering dipilih sebagai narasumber untuk memperkuat daya tarik komunikasi. Selain itu, faktor kredibilitas menjadi elemen penting yang memengaruhi respons audiens. Public figure dengan reputasi baik cenderung lebih dipercaya karena dianggap memiliki integritas, sementara figur yang dinilai ahli atau berpengalaman pada bidang tertentu juga lebih mudah memperoleh kepercayaan publik.
Di luar kepentingan promosi, public figure juga berperan sebagai komunikator informasi. Salah satu contoh yang dibahas adalah akun TikTok @dokterdetektif (doktif), seorang dokter yang berkecimpung di bidang kecantikan. Konten yang diunggahnya kerap membahas dan membongkar dugaan overclaim produk skincare, yang belakangan ramai diperbincangkan. Fenomena ini muncul meski konten ulasan tentang skincare bermasalah juga pernah dilakukan oleh dokter lain, seperti dokter Richard Lee.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai alasan audiens mempercayai pesan yang disampaikan oleh figur tertentu di media sosial. Dalam kerangka komunikasi, doktif maupun dokter lain yang membuat konten serupa dapat diposisikan sebagai komunikator. Kepercayaan audiens terhadap komunikator inilah yang kemudian dapat memengaruhi opini, termasuk keputusan konsumen untuk menghindari atau menghentikan penggunaan suatu produk.
Pengaruh media sosial yang semakin besar mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan informasi. Dengan potensi penyebaran pesan yang cepat dan luas, opini atau informasi dari public figure dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Pengguna media sosial juga cenderung mempercayai sumber yang mereka anggap kredibel, terutama figur yang diikuti dan dinilai relevan dengan kebutuhan atau minat mereka.
Public figure—baik selebriti, influencer, maupun pakar—dinilai memiliki kemampuan signifikan dalam membentuk opini audiens karena kredibilitas dan kedekatan emosional yang terbangun dengan pengikut. Dalam contoh dunia kecantikan, ulasan seorang influencer atau figur yang dianggap memahami skincare dapat memengaruhi keputusan pembelian audiens. Dampak yang sama juga dapat terjadi pada isu sosial, tren, hingga pembentukan persepsi publik terhadap topik tertentu.
Namun, besarnya pengaruh tersebut juga membawa risiko. Kontroversi, ketidakkonsistenan, atau cara komunikasi yang dinilai bermasalah dapat merusak kredibilitas public figure dan memengaruhi opini audiens secara negatif. Karena itu, pemahaman mengenai peran public figure sebagai komunikator di media sosial dinilai penting, baik untuk kepentingan pemasaran maupun upaya meningkatkan kesadaran sosial, sekaligus untuk memahami potensi dan risiko dari pengaruh yang mereka miliki.
Secara umum, perkembangan media sosial membuat komunikasi menjadi lebih efektif dan efisien serta menggeser sejumlah fungsi media massa tradisional. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X juga memungkinkan public figure berinteraksi langsung dengan audiens, sehingga penyebaran pesan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kanal media konvensional. Kedekatan dan rasa “relatable” yang muncul dari interaksi langsung ini menjadi salah satu faktor yang membuat audiens lebih mudah mempercayai pesan yang disampaikan public figure di media sosial.

