Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melibatkan Ary Ginanjar, pendiri ESQ Corp., dalam pelaksanaan Assessment Center bagi Perwira Tinggi Polri pada kepangkatan Brigadir Jenderal Polisi Tahun Anggaran 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan reformasi internal, khususnya pada penerapan sistem meritokrasi dan manajemen talenta, sebagaimana rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP).
Assessment Center tersebut dibuka oleh Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (9/6). Polri menyatakan keterlibatan pihak eksternal menjadi salah satu langkah untuk membangun tata kelola sumber daya manusia yang lebih transparan, objektif, dan berbasis kompetensi, sekaligus memperkuat sistem merit dalam kaderisasi serta pengisian jabatan strategis.
Dalam arahannya, Dedi menilai tantangan Polri ke depan kian kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, ancaman siber, hingga kejahatan transnasional. Di sisi lain, ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik juga meningkat. Karena itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan pemimpin yang adaptif, berintegritas, humanis, dan mampu memberi solusi melalui sistem kaderisasi yang objektif, transparan, dan berbasis meritokrasi.
As SDM Kapolri Irjen Pol. Dr. Anwar menjelaskan Assessment Center Polri diposisikan sebagai instrumen strategis untuk membangun manajemen talenta yang modern dan berkelanjutan. Ia menyebut, perkembangan assessment center di berbagai institusi dunia kini tidak hanya menilai kompetensi individu, tetapi juga memetakan potensi kepemimpinan, kemampuan adaptasi, kapasitas kolaborasi, pengambilan keputusan, serta kesiapan menghadapi perubahan yang dipicu perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Anwar menegaskan, penguatan Assessment Center menjadi fondasi penting dalam penerapan sistem merit dan manajemen talenta di lingkungan Polri. Upaya ini juga disebut sejalan dengan Grand Strategy Polri 2025–2045 serta berbagai rekomendasi reformasi kelembagaan yang mendorong tata kelola SDM lebih profesional, transparan, dan akuntabel.
Sementara itu, Ary Ginanjar menyampaikan bahwa keunggulan organisasi semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola dan mengembangkan talenta manusia. Mengacu pada kajian global, termasuk dari World Economic Forum (WEF), ia menyebut perkembangan kecerdasan buatan dan robotika akan mengubah banyak pola kerja konvensional. Dalam konteks itu, kemampuan yang tidak mudah digantikan teknologi—seperti kepemimpinan, kreativitas, adaptasi, pengaruh sosial, integritas, dan pengambilan keputusan—dinilai menjadi pembeda utama.
Ary juga mengapresiasi langkah Polri yang mulai membangun Big Data talenta untuk memetakan potensi personel secara lebih akurat sebagai dasar pengembangan karier dan penempatan jabatan. Ia menekankan asesmen modern tidak lagi berfokus mencari kelemahan individu, melainkan menggali potensi autentik yang belum terpetakan. Menurutnya, penempatan berbasis talenta dapat membuat personel lebih memahami makna tugas, lebih mandiri, lebih cepat berkembang kompetensinya, serta memberi dampak yang lebih besar bagi organisasi dan masyarakat.
Assessment Center Perwira Tinggi Polri Tahun Anggaran 2026 diikuti 100 peserta. Polri menyatakan kegiatan ini menjadi langkah konkret menindaklanjuti rekomendasi KPRP untuk memperkuat meritokrasi, manajemen talenta, dan tata kelola SDM yang profesional. Melalui proses yang dinilai objektif serta keterlibatan perspektif eksternal, Polri berharap kaderisasi kepemimpinan berjalan berdasarkan kompetensi, integritas, dan potensi terbaik setiap personel, sehingga kualitas pelayanan publik semakin profesional, humanis, transparan, dan dipercaya masyarakat.