PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu menanam 1.000 bibit mangrove di kawasan Pantai Dupa, Kelurahan Layana, Teluk Palu, Sabtu (13/06/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 itu juga disertai aksi pembersihan sampah di pesisir.
Menurut kajian kerusakan ekosistem pesisir, tutupan mangrove di Teluk Palu tercatat menyusut hingga 12 persen atau kehilangan sekitar 7,78 hektar pascabencana tsunami. Tekanan ekologis tersebut disebut kian berat akibat alih fungsi lahan pesisir serta sedimentasi masif yang terbawa arus sungai, yang dikaitkan dengan aktivitas ekstraktif pertambangan galian di kawasan hulu.
PLN menyatakan penanaman mangrove ini dirancang sebagai langkah mitigasi pesisir terpadu, sekaligus bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan untuk mendukung daya dukung lingkungan secara berkelanjutan.
Untuk memperluas dampak dan edukasi program, kegiatan melibatkan jajaran manajemen, pegawai, dan tenaga alih daya PLN UP3 Palu. Sejumlah pihak turut berpartisipasi, di antaranya murid dan guru SD Insan Madani, komunitas Mangrove Rangers Kota Palu, serta kalangan akademisi.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor tersebut. Ia menilai pelestarian ekosistem pesisir membutuhkan kepedulian bersama yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Usman menyebut penanaman mangrove dan pembersihan pantai bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang untuk membantu melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Dalam keterangan yang disampaikan, langkah mitigasi berbasis sabuk hijau (green belt) ini juga dikaitkan dengan dukungan terhadap Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu Tahun 2021–2041. Dalam arahan tersebut, pemulihan kawasan pesisir menjadi salah satu pilar untuk mewujudkan Kota Palu sebagai kota teluk yang tangguh bencana.
Manager PLN UP3 Palu, Ansar, menjelaskan pemilihan pesisir Kelurahan Layana didasarkan pada urgensi perlindungan kawasan yang dinilai memiliki nilai ekologis dan ekonomi tinggi bagi masyarakat. Ia menyatakan PLN berupaya berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pesisir Teluk Palu yang lebih sehat, kokoh, dan seimbang.
Koordinasi penanaman di lapangan dilakukan oleh Alfhais Billy Wahongan selaku perwakilan Manajemen PLN UP3 Palu. Ia menekankan pentingnya keterlibatan langsung di lapangan sebagai cara membangun budaya mitigasi lingkungan bagi pekerja, seraya berharap bibit yang ditanam dapat tumbuh dan memberi dampak ekonomi-ekologis bagi warga Layana.
Dari sisi akademik, Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Tadulako, Iwan Setiawan Basri, menilai kegiatan lapangan semacam ini memberi manfaat bagi dunia pendidikan. Ia menyebut kolaborasi antara korporasi, akademisi, komunitas, dan masyarakat sebagai kunci dalam membangun ketahanan lingkungan sejak dini.