Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Puncak Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi salah satu yang paling menyita perhatian publik di tengah rangkaian agenda kenegaraan sepanjang Juli 2026. Respons publik terhadap pidato tersebut ramai diperbincangkan di ruang digital, dengan emosi marah tercatat sebagai yang paling dominan dalam sampel percakapan yang dipantau.
Dalam sejumlah agenda sepanjang Juli 2026, Prabowo aktif menyampaikan pidato pada berbagai kegiatan, antara lain Hari Bhayangkara, Hari Koperasi Nasional, sidang kabinet, peresmian proyek strategis nasional, hingga puncak peringatan Harlah PKB. Secara umum, pidato-pidato itu memuat arah kebijakan pemerintah, pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, serta program prioritas nasional.
Namun, pidato Prabowo pada Harlah PKB menjadi sorotan setelah ia menyampaikan pernyataan terkait istilah “londo ireng”. Prabowo menegaskan pemerintah tidak antikritik, tetapi menyebut masih ada pihak di Indonesia yang dinilainya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain daripada kepentingan nasional.
“Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Ia kemudian melanjutkan dengan menyebut sejumlah profesi dan kelompok masyarakat. “Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM,” lanjutnya.
Secara historis, “londo ireng” merupakan istilah untuk menyebut orang pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda atau mengkhianati kepentingan bangsanya sendiri. Pernyataan Prabowo tersebut memicu kontroversi. Sejumlah pihak menilai penyebutan wartawan atau jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam satu rangkaian dengan istilah “londo ireng” dapat dipahami sebagai pelabelan terhadap kelompok yang menjalankan fungsi kritik dan pengawasan terhadap pemerintah.
Besarnya perhatian terhadap pidato itu turut tercermin dalam percakapan di ruang digital. Berdasarkan pemantauan Drone Emprit pada periode 1–28 Juli 2026, isu tersebut menghasilkan 3.241 mention di media online dan 18.519 sampel mention dari X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online.
Analisis emosi dalam sampel percakapan tersebut menunjukkan emosi marah menjadi yang paling dominan dengan proporsi 48%. Emosi terkejut berada di urutan berikutnya sebesar 13%, disusul antisipasi 12%.
Sementara itu, emosi positif muncul dalam proporsi lebih kecil. Emosi senang dan percaya masing-masing tercatat 7%. Proporsi yang sama juga tercatat pada kategori jijik. Emosi takut berada di angka 5%, sedangkan sedih menjadi yang terendah dengan 2%.
Drone Emprit menegaskan temuan tersebut menggambarkan emosi dalam sampel percakapan yang dipantau, bukan hasil survei yang mewakili seluruh masyarakat Indonesia. Meski demikian, besarnya percakapan menunjukkan bahwa pilihan kata dalam pidato presiden dapat memengaruhi dinamika respons publik di ruang digital.