BANDUNG — Piala Presiden Elite 2026 resmi dibuka di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026). Turnamen pramusim edisi kedelapan ini tidak hanya menghadirkan persaingan klub-klub elite, tetapi juga membawa agenda transparansi pengelolaan, pembinaan sepak bola usia dini, serta pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pembukaan berlangsung di hadapan 23.756 penonton. Antusiasme suporter membuat tiket pertandingan perdana habis terjual, mendekati kapasitas stadion yang sekitar 27 ribu kursi.
Turnamen diawali laga Grup A antara DPMM FC dari Brunei Darussalam melawan Tampines Rovers asal Singapura yang berakhir imbang 2-2. Pada pertandingan malam, tuan rumah Persib Bandung menang tipis 1-0 atas Arema FC, menjadi awal positif bagi tim asuhan Igor Tolic.
Di sela dua pertandingan, panitia menggelar upacara pembukaan dengan konsep sederhana. Pertunjukan musik dipadukan dengan atraksi ratusan anak dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) yang menampilkan kemampuan mengolah bola di tengah lapangan. Kehadiran pemain usia dini itu disebut menjadi simbol bahwa Piala Presiden Elite 2026 juga memberi ruang bagi pembinaan generasi muda.
Suasana meriah juga terlihat di area luar stadion. Puluhan stan UMKM dipadati pengunjung yang mencari kuliner dan produk lokal, menunjukkan dampak ekonomi yang ikut bergerak selama penyelenggaraan turnamen.
Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden Elite 2026, Maruarar Sirait, menegaskan penyelenggaraan tahun ini mengutamakan tata kelola yang bersih dan transparan. Ia menyebut seluruh proses keuangan diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC) sebagai auditor independen bertaraf internasional, serta dipastikan tidak menggunakan anggaran negara.
“Kami berusaha menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto. Yang pertama adalah transparansi. Seluruh proses diaudit oleh PwC yang memiliki standar internasional. Yang kedua, turnamen ini tidak menggunakan uang negara,” ujar Maruarar di Stadion Si Jalak Harupat.
Maruarar menambahkan, pembiayaan turnamen berasal dari dukungan sponsor dan mitra. Menurutnya, transparansi menjadi modal untuk membangun kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Indonesia. “Kepercayaan lahir dari transparansi. Karena itu seluruh ekosistem sepak bola harus berjalan bersama, mulai dari klub, pemilik klub, pelatih, pemain hingga suporter,” katanya.
Selain aspek kompetisi, panitia juga menggandeng 100 UMKM lokal, terdiri dari 50 UMKM di Bandung dan 50 UMKM di Surabaya. Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden Elite 2026, Tsamara Amany Alatas, mengatakan para pelaku UMKM dipilih melalui proses kurasi untuk menjaga kualitas produk yang ditawarkan.
Panitia membagi peserta UMKM ke dalam tiga kategori, yakni pelaku usaha yang sudah memiliki pasar, UMKM berkembang, dan UMKM rintisan yang membutuhkan ruang promosi lebih luas. “Kami ingin Piala Presiden menjadi ajang yang membantu UMKM berkembang sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Tsamara.
Menurut Tsamara, kehadiran puluhan ribu penonton selama turnamen diproyeksikan meningkatkan hunian hotel, penggunaan transportasi, konsumsi kuliner, serta aktivitas perdagangan di sekitar lokasi pertandingan. Ia juga menegaskan penyelenggaraan tetap mengedepankan profesionalisme dan akuntabilitas, termasuk pelaksanaan kegiatan tanpa dana pemerintah dan pengawasan auditor independen.
“Kami menjaga tiga hal, yakni kualitas pertandingan, dampak ekonomi bagi masyarakat, dan tata kelola yang transparan. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan hiburan berkualitas sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perkembangan sepak bola Indonesia,” ujarnya.
Setelah pembukaan di Bandung, turnamen berlanjut ke pertandingan Grup B di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (26/7/2026). Dua laga dijadwalkan berlangsung, yakni PSMS Medan melawan Port FC dari Thailand serta Persija Jakarta menghadapi Persebaya Surabaya.
Piala Presiden Elite 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 6 Agustus 2026. Penyelenggara berharap ajang ini menjadi pemanasan menuju musim kompetisi 2026-2027 sekaligus memperkuat ekosistem sepak bola nasional melalui kompetisi yang sehat, tata kelola transparan, dan kontribusi ekonomi bagi daerah penyelenggara.