Perdebatan Analisis dan Analisa, dari Obrolan Talk Show hingga Acuan KBBI

Perdebatan Analisis dan Analisa, dari Obrolan Talk Show hingga Acuan KBBI

Sebuah acara bincang-bincang di stasiun televisi swasta pada Rabu, 21 Februari 2018 sekitar pukul 09.00 WIB menarik perhatian penulis. Program itu menghadirkan penyanyi pop era 1990-an hingga 2000-an, Hedi Yunus, dengan Sarah Sechan sebagai pembawa acara yang memandu percakapan lewat pertanyaan-pertanyaan yang membuat suasana cair.

Di tengah dialog, rekan pembawa acara, Mumuk Gomez, tiba-tiba bereaksi saat menanggapi pembahasan yang mengacu pada sebuah artikel dari situs internet. Mumuk memulai komentarnya dengan kalimat “Kalau aku analisis...”, namun Sarah segera memotong dan membetulkan menjadi “Analisa”. Mumuk kemudian mengulang ucapannya dengan kata “analisa”.

Situasi serupa terjadi lagi. Setelah Mumuk membacakan inti artikel yang dijadikan latar pembicaraan, ia kembali membuka tanggapan dengan “Kalau aku analisis...”. Sarah kembali menyela dan menegaskan, “Analisa. Mau analisa, tapi analisis.” Mumuk pun mengulang lagi dengan menggunakan kata “analisa”.

Penulis menilai penggunaan kata “analisis” oleh Mumuk sebenarnya sudah tepat. Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi V, bentuk yang dianggap baku adalah “analisis”, bukan “analisa”. Dalam KBBI, “analisis” merupakan kata benda yang berkaitan dengan penyelidikan, penguraian, penjabaran, serta pemecahan persoalan. Adapun bentuk kata kerja turunannya adalah “menganalisis”, meski dalam praktiknya banyak orang juga menggunakan “analisis” sebagai kata kerja.

Kata “analisis” diserap dari “analysis” dalam bahasa Inggris. Kata kerja yang berkaitan dalam bahasa Inggris adalah “analyze” (Amerika) atau “analyse” (Britania). Dalam bahasa Belanda, ejaan “analyse” dipakai baik untuk kata benda maupun kata kerja. Karena itu, penyerapan “analysis” menjadi “analisis” dinilai wajar. Namun pertanyaan kemudian muncul: mengapa bentuk “analisa” ikut berkembang dan digunakan sebagian orang?

Dalam praktik, ada kelompok yang membedakan “analisis” dan “analisa” berdasarkan asumsi asal kata yang diserap, yakni memposisikan “analisis” sebagai kata benda dan “analisa” sebagai kata kerja, lengkap dengan bentuk “menganalisa”. Sementara itu, “menganalisis” tetap dapat dipandang sebagai verba, tetapi disebut memiliki pemaknaan berbeda—bukan ‘melakukan analisis’ sebagaimana tercantum dalam KBBI, melainkan ‘menjadi analisis’.

Penulis kemudian mengaitkan perdebatan ini dengan kasus serupa, seperti “diagnosis” dan “diagnosa”. KBBI menetapkan bentuk baku “diagnosis”, yang diserap dari bahasa Inggris “diagnosis”, dengan kata kerja “diagnose”. Contoh lain yang disebut adalah “sintesis” (dari “synthesis”) yang kerap dipasangkan dengan “sintesa”, serta “tesis” (dari “thesis”) yang kadang dipasangkan dengan “tesa”.

Perbandingan juga ditarik pada kata “organisasi” yang diserap dari “organisation/organization”. Dalam bahasa Indonesia, kata kerjanya adalah “mengorganisasi”, sedangkan dalam bahasa Inggris verba yang terkait adalah “organize/organise”. Jika pola pemisahan seperti “diagnosa” hendak diterapkan secara konsisten, maka bentuk seperti “mengorganisa” semestinya muncul, namun hal itu tidak terjadi.

Hingga kini, KBBI masih menjadi acuan penting dalam penggunaan bahasa Indonesia dan dinilai perlu dijunjung, sambil tetap disikapi secara kritis demi memperkaya khazanah bahasa Indonesia.