Pengunduran Diri Joseph Kent Soroti Friksi Internal Pemerintahan Trump di Tengah Perang Iran

Pengunduran Diri Joseph Kent Soroti Friksi Internal Pemerintahan Trump di Tengah Perang Iran

Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kritik tajam, terutama terkait motif yang dinilai ambigu dan tujuan yang dianggap tidak jelas. Di tengah skeptisisme luas, muncul pula klaim bahwa perang tersebut tidak berhasil menggulingkan rezim Iran semudah yang sebelumnya dijanjikan.

Keraguan datang bukan hanya dari aktivis perdamaian, tetapi juga dari kalangan militer berpengalaman, termasuk Mayor Jenderal AS (purn.) Steven Anderson. Presiden Donald Trump menanggapi kritik itu dengan membela langkahnya, menyatakan bahwa AS menghadapi konfrontasi dengan ancaman nyata setelah Iran memperoleh senjata nuklir.

Trump juga menonjolkan sejumlah pencapaian yang diklaimnya sebagai hasil operasi tersebut, mulai dari melemahkan rezim Iran, menargetkan infrastruktur militer, hingga menewaskan tokoh-tokoh penting. Disebutkan pula kematian Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang terjadi setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Dampak perang ini meluas melampaui kawasan, memunculkan krisis global dan perpecahan tajam dalam pandangan. Perbedaan sikap terlihat antara AS dan sejumlah sekutu Eropa yang menolak ikut campur, serta di dalam negeri AS sendiri, termasuk di kalangan Partai Republik.

Di tengah situasi itu, perhatian publik tersedot pada kabar pengunduran diri Joseph Kent dari jabatannya sebagai Direktur National Counterterrorism Center (NCTC). Kent dikenal sebagai bagian dari lingkaran keamanan nasional yang dekat dengan Trump dan selama ini dipandang mendukung pilihan-pilihan militer presiden.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Kent menyebut memilih menjauh dari perang yang menurutnya tidak memiliki justifikasi. Ia mengatakan tidak dapat “dengan hati nurani yang baik” mendukung konflik yang sedang berlangsung, dengan alasan Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi AS. Kent juga menilai perang tersebut muncul di bawah tekanan Israel dan lobi pengaruhnya di Washington.

Kent menyoroti apa yang ia sebut sebagai kontradiksi sikap Trump. Hingga Juni 2025, menurut Kent, presiden menyebut perang di Timur Tengah sebagai perang “jebakan” yang menguras nyawa dan harta AS, namun kini justru menjadi pendukung antusias untuk membuka front baru.

Pengunduran diri Kent dipandang memperlihatkan retakan internal akibat perang Iran, bahkan di antara pejabat yang selama ini dianggap dekat dan loyal kepada Trump. Kent bukan figur biasa: ia merupakan mantan perwira militer dengan hampir dua dekade pengalaman, berlatar intelijen, dan dikenal sebagai tokoh politik yang tengah naik daun.

Ia juga disebut dipengaruhi tragedi pribadi pada 2019, ketika istrinya, Shannon—yang juga berprofesi di bidang intelijen—tewas akibat serangan bunuh diri yang diklaim ISIS di Manbij, Suriah.

Dalam ranah politik domestik, Kent dua kali mencalonkan diri ke Kongres dari negara bagian Washington dengan dukungan Trump, namun kalah pada 2022 dan 2024. Kedekatannya dengan gagasan Trump turut memunculkan kritik karena asosiasi dengan tokoh dan kelompok sayap kanan.

Ketika memimpin NCTC, peran Kent berada di persimpangan intelijen dan politik. Ia bukan komandan lapangan, melainkan bertugas mengintegrasikan dan menilai informasi ancaman teror untuk disampaikan kepada pengambil keputusan tingkat tertinggi.

Pernyataan Kent bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman langsung dinilai menantang fondasi intelijen dan hukum yang dijadikan dasar perang. Hal itu menambah bobot perdebatan mengenai kriteria “ancaman mendesak” sebagai justifikasi penggunaan kekuatan militer.

Kasus ini juga menyingkap perpecahan di kubu “America First”. Kent dikaitkan dengan kelompok yang menolak perang baru di Timur Tengah dan menekankan kepentingan domestik AS, berbeda dengan sayap lain yang lebih siap mendukung intervensi militer.

Di sisi lain, Kent tidak lepas dari kontroversi. Ia pernah berseteru dengan Senator Mark Warner, Wakil Ketua Komite Intelijen Senat, yang menuding Kent memaksa analis mengubah penilaian intelijen terkait kelompok kriminal Venezuela, Tren de Aragua, agar sesuai dengan narasi politik pemerintahan Trump. Kelompok tersebut dikenal terlibat perdagangan narkotika, perdagangan manusia, dan kejahatan lain, serta telah ditetapkan sebagai entitas teroris transnasional. Laporan tersebut pada akhirnya tidak diubah.

Situasi ini memunculkan ironi politik: presiden yang membangun citra menentang intervensi militer kini mendorong perang baru, sementara Kent—yang sebelumnya dikritik karena dituding mempolitisasi intelijen—kini tampil menentang perang yang ia anggap politis dan tidak berdasar.