Peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo, menilai respons pemimpin terhadap persoalan publik beserta solusi penanganannya menjadi indikator krusial untuk membaca performa seorang pemimpin di mata masyarakat. Pernyataan itu disampaikan Wasisto saat menanggapi hasil survei Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menempatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai figur dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi calon presiden.
“Saya pikir respons pemimpin terhadap masalah publik dan juga solusi penanganan menjadi salah satu indikator krusial dalam melihat peforma seorang pemimpin di mata publik,” kata Wasisto kepada awak media, Kamis, 30 Juli 2026.
Wasisto juga berharap ada perbaikan kepemimpinan. Menurutnya, hasil survei dapat dibaca sebagai cerminan evaluasi publik. “Karena itu merupakan cerminan riil evaluasi publik,” ujarnya.
Dalam survei SMRC, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 35 persen, unggul atas Presiden Prabowo Subianto yang berada di posisi kedua dengan elektabilitas 14,5 persen. Hasil ini merujuk pada tren elektabilitas dalam simulasi semi terbuka untuk periode November 2025 hingga Juli 2026.
Survei nasional bertajuk “Elektabilitas Calon-Calon Presiden” itu dilakukan pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang mewakili warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon dengan metode double sampling, sementara 144 responden diwawancarai secara tatap muka menggunakan metode stratified multistage random sampling. Sampel dipilih secara acak dengan margin of error ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Dalam simulasi semi terbuka yang memuat 20 nama calon presiden, Dedi Mulyadi—atau Kang Dedi Mulyadi (KDM)—berada di posisi teratas dengan 35 persen. Prabowo Subianto menempati posisi kedua dengan 14,5 persen, disusul Anies Baswedan di posisi ketiga dengan 8,2 persen, dan Gibran Rakabuming Raka di posisi keempat dengan 7,7 persen.