Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mencatat penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Dalam survei tersebut, tingkat kepuasan turun dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026, atau turun sekitar 30,1 poin persentase dalam sembilan bulan.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, mengatakan naik-turun hasil survei merupakan hal yang wajar karena survei adalah potret opini publik yang bersifat dinamis. Ia menilai angka kepuasan bisa kembali meningkat seiring perubahan persepsi masyarakat.
"Pertama, yang namanya survei itu dia potret opini publik, dia dinamis, bisa naik, bisa turun. Jadi, kalau kemarin beberapa bulan yang lalu seperti di laporan SMRC itu 80 persen sekarang 50 persen, ya, Insyaallah nanti 80 persen lagi," ujar Qodari di Surabaya, Selasa (28/7/2026).
Qodari menambahkan, pemerintah masih menunggu hasil riset dari lembaga survei lain sebagai pembanding. Ia juga menilai indikator makro menunjukkan kondisi fundamental ekonomi dan stabilitas politik nasional berada dalam tren yang positif.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,61 persen dan inflasi terkendali di 3 persen. Qodari juga mengatakan mendapat informasi dari Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat masih tinggi.
Dari sisi politik, Qodari menilai situasi nasional kokoh karena mayoritas partai politik mendukung program Presiden Prabowo. "Secara politik juga kita sangat kokoh, koalisinya besar, semua semua mendukung program-program dari Bapak Presiden," katanya.
Qodari juga meminta masyarakat melihat realita di lapangan. Ia mengklaim sejumlah program Presiden Prabowo telah berdampak pada peningkatan kesejahteraan, termasuk yang berkaitan dengan swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tidak menutup mata terhadap hasil kajian yang beredar. Menurutnya, survei SMRC akan menjadi salah satu pertimbangan untuk perbaikan kinerja.
"Kita melihat perkembangan ke depan, tetapi kita menerima dan merespons semua masukan sebagai sesuatu yang berharga untuk melakukan perbaikan kinerja," ujarnya.
Survei SMRC bertajuk Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden dilakukan pada 5–19 Juli 2026. Survei melibatkan 749 responden yang mewakili warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling, sementara 144 responden diwawancarai secara tatap muka menggunakan metode stratified multistage random sampling.
SMRC menyebut sampel dipilih secara acak dengan margin of error ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasilnya menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo mengalami penurunan tajam dibanding sembilan bulan sebelumnya.