Setelah tiga dekade berkembang, pasar saham Vietnam dinilai semakin berperan penting bagi perusahaan, terutama di sektor manufaktur, dalam memperluas akses pendanaan sekaligus mendorong peningkatan tata kelola dan transparansi.
Dalam perkembangannya, perusahaan manufaktur yang sebelumnya lebih banyak bergantung pada pinjaman bank kini memiliki alternatif untuk memperoleh modal jangka menengah dan panjang melalui pasar saham dengan biaya yang dianggap lebih wajar. Ketersediaan pendanaan semacam ini dinilai krusial bagi sektor manufaktur yang membutuhkan siklus investasi panjang serta modal stabil untuk memperluas pabrik, berinvestasi pada teknologi, dan mengembangkan pasar.
Bagi perusahaan Nam Hoa, pasar saham disebut tidak hanya berfungsi sebagai saluran penghimpunan dana, tetapi juga menjadi pendorong untuk meningkatkan tata kelola secara menyeluruh. Perusahaan menilai keikutsertaan di pasar saham menuntut peningkatan transparansi keuangan, penyeragaman sistem operasional, serta penguatan reputasi di mata mitra dan pelanggan internasional.
Sejak terdaftar di UPCoM pada 2017, modal dasar Nam Hoa meningkat dari sekitar 55 miliar VND menjadi lebih dari 240 miliar VND. Peningkatan itu dilakukan melalui sejumlah cara, antara lain penerbitan saham kepada pemegang saham yang ada, pembagian dividen saham, serta penambahan modal dari laba ditahan.
Perusahaan saat ini memasok produk kayu berkualitas tinggi kepada sejumlah perusahaan global seperti Lego, Clayola, dan Rosenda. Dalam kerja sama dengan pelanggan, transparansi manajemen disebut menjadi salah satu kriteria yang mendapat penilaian tinggi. Partisipasi di pasar saham juga dinilai memperkuat reputasi perusahaan di mata pelanggan.
Untuk mempertahankan posisi di pasar, Nam Hoa menyatakan berupaya mengatasi berbagai hambatan teknis yang semakin ketat, terutama standar ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola) serta aturan ketertelusuran karbon. Menurut perusahaan, kekuatan finansial setelah restrukturisasi menjadi faktor penting agar mereka dapat berinvestasi pada teknologi dan proses yang terstandarisasi demi memenuhi persyaratan tersebut serta meningkatkan daya saing internasional.
Meski demikian, pengalaman awal masuk ke pasar saham disebut tidak lepas dari tantangan. Perusahaan menilai kendala terbesar bukan pada prosedur pencatatan saham, melainkan perubahan pola pikir dalam tata kelola. Bagi banyak perusahaan manufaktur tradisional, transisi dari model manajemen keluarga menuju perusahaan publik merupakan perubahan besar yang menuntut penyeragaman sistem, mulai dari akuntansi dan pengendalian internal hingga manajemen risiko, keterbukaan informasi, dan transparansi operasional.
Pada tahap awal, tekanan operasional dinilai tidak terhindarkan karena perusahaan harus terbiasa mengungkapkan kondisi keuangan, strategi bisnis, dan kinerja kepada pemegang saham dan pasar. Namun setelah melalui masa adaptasi, perusahaan menilai transparansi bukan sekadar beban, melainkan fondasi untuk pengembangan berkelanjutan serta pembentukan kepercayaan dengan pemegang saham dan investor.
Dalam penilaian terhadap perkembangan industri sekuritas Vietnam, pasar yang awalnya hanya berisi sedikit perusahaan tercatat dengan volume perdagangan terbatas kini telah mencapai kapitalisasi yang setara sekitar 60–70% dari PDB. Pasar juga melibatkan jutaan rekening investor, baik domestik maupun asing.
Periode 2021 hingga 2026 disebut sebagai fase pertumbuhan kuat, ditandai meningkatnya jumlah investor individu dan likuiditas yang kerap melampaui 1 miliar dolar AS per sesi perdagangan. Sejalan dengan itu, sistem perdagangan, mekanisme operasional, serta standar keterbukaan informasi juga dikatakan terus ditingkatkan dan semakin mendekati praktik terbaik internasional.
Salah satu tonggak penting yang disoroti adalah pembentukan dan penyempurnaan kerangka hukum pasar saham, terutama setelah 2005, ketika pasar mulai bertumbuh pesat dari sisi kapitalisasi, jumlah perusahaan tercatat, dan partisipasi investor dalam dan luar negeri.
Perubahan juga terlihat pada preferensi investor. Jika sebelumnya lebih berfokus pada pertumbuhan jangka pendek atau fluktuasi harga, investor kini disebut lebih memperhatikan kualitas aset, kemampuan menghasilkan arus kas, kompetensi manajemen, faktor ESG, serta strategi pengembangan jangka panjang perusahaan.
Dalam komunikasi dengan pemegang saham dan investor, perusahaan menyatakan lebih menekankan penyampaian informasi yang jelas mengenai strategi restrukturisasi, arah pengembangan jangka menengah dan panjang, kemampuan mengelola risiko, rencana pemanfaatan modal, serta kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan.
Ke depan, Vietnam dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan besar di bidang manufaktur dan ekspor, terutama di tengah pergeseran rantai pasok global ke Asia Tenggara. Persaingan disebut tidak lagi bertumpu pada tenaga kerja murah, melainkan bergeser ke kemampuan manajemen, teknologi, standar ESG, kapasitas desain produk, dan nilai merek. Dalam konteks ini, Nam Hoa menyatakan memprioritaskan pembangunan hubungan berkelanjutan dengan investor mitra jangka panjang dibanding terlalu berfokus pada fluktuasi harga saham jangka pendek.