Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama para pemangku kepentingan sektor energi untuk serius memantau perkembangan harga minyak dunia dan menyampaikannya secara terbuka kepada publik.
Menurut Rivqy, transparansi menjadi penting menyusul adanya kesepahaman damai (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sehingga dapat memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.
“Jangan menutupi fakta jika memang harga minyak dunia mengalami penurunan. Apabila tren harga minyak turun dan faktor-faktor pembentuk harga BBM memungkinkan, maka masyarakat juga berhak menikmati penurunan harga BBM di dalam negeri,” kata Rivqy di Jakarta, Jumat (19/6).
Ia menekankan kebijakan energi nasional harus berkeadilan dan berpihak pada masyarakat luas. Karena itu, pemerintah diminta menyampaikan kondisi yang sebenarnya kepada publik, termasuk saat terdapat faktor-faktor lain yang memengaruhi kemampuan penyesuaian harga BBM.
Rivqy menyebut sejumlah faktor yang dapat menekan harga BBM, seperti nilai tukar rupiah, biaya distribusi, dan kondisi fiskal. Menurutnya, bila faktor-faktor tersebut masih membatasi ruang penurunan harga, pemerintah tetap dapat melakukan penyesuaian secara proporsional dengan penjelasan yang terbuka.
“Kalau memang masih ada faktor negatif yang membuat ruang penurunan harga BBM terbatas, silakan disampaikan secara terbuka. Namun seluruh kebijakan harus tetap berada dalam koridor yang berkeadilan,” ujarnya.
Selain isu transparansi, Rivqy juga menyoroti besarnya pengaruh dinamika global terhadap perekonomian Indonesia, terutama di sektor minyak dan gas bumi. Ia menilai ketergantungan pada pasokan energi global membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik internasional.
“Perkembangan di belahan dunia lain, mulai dari konflik, ketegangan politik, hingga kesepakatan antarnegara, bisa langsung berdampak pada harga energi yang dirasakan masyarakat Indonesia. Ini menunjukkan bahwa sektor migas kita masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global,” tuturnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat langkah strategis menuju kemandirian energi nasional, antara lain melalui peningkatan produksi migas domestik, optimalisasi eksplorasi, serta penguatan investasi di sektor energi.