Opini: Analisis Penulis Turki soal Alasan Macron Kerap Mengkritik Turki

Opini: Analisis Penulis Turki soal Alasan Macron Kerap Mengkritik Turki

Seorang penulis dan intelektual Turki yang tinggal di Istanbul menilai Presiden Prancis Emmanuel Macron kerap mengambil manuver politik yang memperbesar ketegangan di sejumlah krisis regional, termasuk dalam perselisihan di Mediterania Timur antara Turki dan Yunani.

Dalam pandangannya, Macron disebut berupaya memengaruhi keseimbangan di kawasan Mediterania dengan mendorong Yunani bersikap lebih konfrontatif terhadap Ankara, alih-alih mendorong dialog langsung untuk meredakan sengketa.

Kerangka argumen: kepentingan Prancis di Afrika

Penulis berpendapat, sikap keras Prancis terhadap Turki tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan kepentingan Prancis di Afrika. Ia menyebut Prancis selama puluhan tahun mempertahankan pengaruh di hampir 20 negara Afrika melalui pola yang ia sebut sebagai “kemerdekaan bersyarat”.

Menurutnya, meski negara-negara itu memiliki simbol kedaulatan seperti bendera, lagu kebangsaan, dan batas wilayah, Prancis tetap berupaya mengendalikan sejumlah aspek penting, termasuk bahasa, pendidikan, ekonomi, hingga sistem hukum.

Bahasa dan pendidikan sebagai instrumen pengaruh

Dalam uraian penulis, Prancis disebut menetapkan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi di sejumlah bekas wilayah jajahan dan membangun sistem pendidikan yang berorientasi pada Prancis. Ia menilai kebijakan ini bertujuan menanamkan kedekatan budaya dan cara berpikir yang pro-Prancis.

Penulis juga menyebut adanya produksi dan penyebaran berbagai konten berbahasa Prancis—seperti radio, buku, publikasi, majalah, hingga permainan—di negara-negara Afrika tertentu. Menurutnya, hal itu membentuk pengaruh jangka panjang di ruang sosial dan budaya.

Peran elit lokal dan struktur pemerintahan

Penulis menyatakan Prancis mempertahankan kepentingannya dengan mengandalkan kelompok elit lokal yang dibentuk melalui sistem pendidikan dan birokrasi yang selaras dengan kepentingan Prancis. Ia mengutip pernyataan yang dikaitkan dengan Presiden Prancis Charles de Gaulle saat Prancis menarik diri dari Aljazair, bahwa elite penguasa yang ditinggalkan akan menjaga kepentingan Prancis.

Selain itu, ia mengutip pernyataan yang dikaitkan dengan seorang gubernur Prancis di Aljazair mengenai pentingnya bahasa dan identitas keagamaan dalam mempertahankan dominasi.

Francophonie dan sistem moneter CFA

Penulis menyoroti pembentukan komunitas “francophonie” sebagai wadah negara-negara penutur bahasa Prancis. Ia menilai forum semacam itu memperkuat koordinasi dan pengaruh Prancis di negara-negara terkait.

Ia juga menempatkan sistem moneter “Communauté Financière Africaine (CFA)” sebagai faktor utama yang memungkinkan Prancis mempertahankan kendali ekonomi di sebagian negara Afrika. Dalam tulisannya, penulis menyebut penolakan atau upaya keluar dari CFA kerap dihadapkan pada tekanan berat, termasuk tuduhan korupsi, instabilitas politik, hingga kudeta.

Klaim tentang kudeta dan penindakan

Penulis mengaitkan sejumlah peristiwa politik di Afrika dengan upaya mempertahankan pengaruh Prancis, termasuk pembunuhan Presiden Togo Sylvanus Olympio pada 1963 setelah disebut memutuskan keluar dari CFA dan mencetak mata uang sendiri, serta penggulingan Presiden Mali Modibo Keita pada 1968 setelah disebut hendak menarik diri dari CFA.

Ia juga menyatakan telah terjadi puluhan kudeta di Afrika dalam beberapa dekade terakhir, terutama di negara-negara yang disebutnya sebagai bekas jajahan Prancis. Dalam kasus Aljazair, penulis menyinggung peristiwa setelah kemenangan partai FIS pada pemilu 1992, yang menurutnya diikuti kudeta dan kekerasan besar pada periode 1992–1995.

Turki, Afrika, dan Mediterania Timur

Menurut penulis, ketegangan Prancis dengan Turki saat ini ikut dipengaruhi oleh meningkatnya peran Turki di Afrika. Ia menyinggung ekspansi jaringan penerbangan Turkish Airlines ke berbagai negara Afrika, yang menurutnya membuat pola transit perjalanan internasional bergeser melalui Istanbul dan mengurangi ketergantungan pada rute Paris.

Penulis juga menyatakan Turki membangun pangkalan di Libya dan mulai membuka diri ke Afrika, dengan Libya ia sebut sebagai “pintu ke Afrika” pada periode Ottoman. Dalam kerangka itu, ia berpendapat Prancis memanfaatkan Yunani untuk membatasi pengaruh Turki di Afrika dan Mediterania.

Kesimpulan penulis

Di akhir tulisannya, penulis menyimpulkan bahwa akar persoalan bukan semata perselisihan Turki–Yunani, melainkan persaingan pengaruh yang lebih luas terkait Afrika dan Mediterania. Ia menilai Prancis berupaya mempertahankan jaringan pengaruhnya, sementara Turki dipandang sebagai pihak yang dapat mengganggu tatanan tersebut.

  • Catatan: Artikel ini merupakan opini penulis sebagaimana tercantum dalam naskah asli, dan berisi penilaian serta klaim yang disampaikan penulis.