OJK, BEI, dan KSEI Tuntaskan Agenda Transparansi, Pengamat Nilai Jadi Momentum Pasar Modal Naik Kelas

OJK, BEI, dan KSEI Tuntaskan Agenda Transparansi, Pengamat Nilai Jadi Momentum Pasar Modal Naik Kelas

Pasar modal Indonesia memasuki babak baru setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menuntaskan empat agenda penguatan transparansi pasar. Sejumlah pelaku dan pengamat menilai langkah ini dapat mendorong transformasi pasar modal domestik menuju standar global yang lebih tinggi.

CO-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, mengatakan reformasi transparansi yang dijalankan OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) menjadi momentum penting bagi peningkatan kualitas pasar dalam jangka panjang. Menurutnya, sejumlah kebijakan transparansi berpotensi memberikan manfaat besar, meski efek jangka pendeknya bisa berupa peningkatan volatilitas pada saham tertentu.

Hans menyoroti saham-saham yang terdampak langsung oleh kebijakan transparansi, terutama emiten dengan konsentrasi kepemilikan tertentu. Ia memperkirakan volatilitas dapat meningkat dalam waktu dekat dan berpengaruh terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Mungkin di jangka pendek saham yang terdampak akan mengalami kenaikan volatilitas, dan punya pengaruh ke IHSG. Saham no 2 dan 3 market cap tersebar mungkin lebih volatail,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Meski demikian, Hans menilai setelah proses penyesuaian selesai, pasar akan kembali normal. Ia melihat reformasi ini sebagai momentum positif karena pergerakan harga saham ke depan diharapkan lebih mencerminkan nilai fundamental perusahaan. “Reformasi pasar modal sangat baik membawa indonesia menjadi salah satu negara yang paling transparan dan membawa pasar modal Indonesia naik kelas,” kata Hans.

Ia juga mencontohkan pengalaman India yang pernah menghadapi persoalan serupa terkait struktur pasar sekitar 2010. Setelah melakukan reformasi transparansi dan tata kelola, India disebut menjadi salah satu tujuan utama investor global. Hans menyebut bobot India dalam indeks global MSCI meningkat dari sekitar 8% menjadi hampir 20% saat ini, yang dinilainya mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor asing. Dari pengalaman tersebut, ia menilai peluang Indonesia untuk mengalami kenaikan bobot di MSCI dan FTSE pada masa depan cukup besar.

Pengamat pasar modal Reydi Octa turut menilai agenda reformasi transparansi yang diselesaikan OJK merupakan langkah maju untuk memperbaiki struktur pasar saham Indonesia. Ia menyoroti beberapa kebijakan baru, seperti pembukaan data kepemilikan saham di atas 1%, pengumuman saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), serta kebijakan peningkatan free float.

“Reformasi transparansi yang dituntaskan OJK, BEI, dan KSEI adalah langkah maju yang tepat untuk memperbaiki kualitas bursa saham Indonesia,” ujar Reydi, Senin (6/4/2026).

Reydi menambahkan, transparansi kepemilikan saham selama ini menjadi salah satu isu struktural yang memengaruhi kepercayaan investor, terutama terkait pergerakan harga saham berkapitalisasi kecil dan menengah yang kerap bergejolak. Dengan pengungkapan kepemilikan yang lebih detail serta pengumuman saham dengan konsentrasi pemegang saham tinggi, pelaku pasar dinilai memiliki tambahan informasi untuk menilai risiko likuiditas maupun potensi volatilitas suatu saham.

Namun, Reydi mengingatkan bahwa dampak stabilisasi pasar tidak akan terjadi secara instan. Menurutnya, efek perbaikan akan terasa bertahap, sementara volatilitas pada saham lapis bawah masih berpotensi berlangsung dalam jangka pendek. “Efek stabilisasi baru akan terasa bertahap, bukan instan, sehingga volatilitas di saham lapis bawah, masih akan tetap terjadi dalam jangka pendek,” ujarnya.