Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali menyoroti kelayakan investasi pasar saham Indonesia menjelang tinjauan penting yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Dalam sorotannya, MSCI menyebut pasar modal Indonesia masih menghadapi keterbatasan visibilitas atas kepemilikan saham. Selain itu, MSCI juga menyinggung adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi di pasar modal Indonesia.
Meski demikian, sejumlah investor masih memperkirakan Indonesia dapat mempertahankan statusnya sebagai emerging market atau pasar negara berkembang.
Pasar saham Indonesia telah berada dalam tekanan sejak Januari 2026. Pada periode tersebut, MSCI menyoroti persoalan transparansi sekaligus memperingatkan potensi penurunan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market atau pasar perbatasan.
Penurunan status itu dinilai kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat. Namun, jika perubahan klasifikasi benar terjadi, dampaknya diperkirakan signifikan. Arus dana keluar disebut berpotensi mencapai 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 231,43 triliun.
Pada perdagangan Jumat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak naik turun tipis pada awal perdagangan. Pelaku pasar masih menimbang dampak tinjauan aksesibilitas pasar MSCI yang dirilis pada Kamis malam.
Sepanjang 2026, IHSG telah turun sekitar 29 persen. Kinerja tersebut menempatkan pasar saham Indonesia sebagai salah satu bursa utama dengan performa terburuk di dunia.