SEMARANG – Pemahaman mengenai penataan ruang, khususnya dalam skala wilayah, dinilai penting untuk diketahui masyarakat, terutama generasi muda. Di tengah kejadian bencana yang kerap muncul di berbagai daerah, pengetahuan tentang kondisi tata ruang dan faktor yang memicu bencana diharapkan dapat membantu memperkuat upaya mitigasi.
Mahasiswi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Semarang (USM), Aurora Pradipta, mencontohkan potensi risiko bencana di Kota Semarang. Menurutnya, minimnya ruang terbuka hijau serta pemanfaatan bantaran sungai untuk permukiman dapat memperburuk kerawanan bencana.
“Bantaran sungai itu harus dikosongin, karena itu kan tempat yang rawan longsor atau banjir. Itu yang paling bikin parah terkait bencana, di samping kurangnya ruang terbuka hijau sehingga kalau hujan tidak ada area untuk resapan,” kata Aurora dalam program siaran SPADA PRO 2 RRI Semarang, Rabu, 29 April 2026.
Sementara itu, banjir disebut tidak bisa semata-mata dipandang sebagai dampak cuaca. Dari perspektif perencanaan wilayah dan kota, terdapat faktor lain yang turut berperan. Mahasiswi PWK USM lainnya, Aprilia Kusuma, menyoroti peran sistem drainase, terutama yang tersumbat akibat penumpukan sampah.
“Sampah yang menumpuk di pinggir-pinggir drainase jalan, itu juga bisa menyebabkan menggenangnya air dan banjir. Selain itu, penyempitan sungai, terlalu banyak permukaan beton, jadi airnya susah untuk terserap,” ujar Aprilia.
Aprilia berharap, perencanaan wilayah ke depan dapat lebih memberi perhatian pada kawasan rawan bencana sekaligus menegakkan regulasi. Ia menilai langkah tersebut diperlukan agar kondisi kota tetap aman dan terhindar dari potensi bencana yang muncul akibat penataan ruang yang tidak tepat.