Pembicaraan mengenai kemungkinan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih dipenuhi spekulasi, di tengah belum jelasnya poin-poin yang akan dipertahankan masing-masing pihak untuk mengakhiri perang.
Presiden AS Donald Trump sempat menyebut adanya diskusi awal dengan Iran. Namun Teheran segera membantah pernyataan tersebut dan menegaskan tidak ada pembicaraan apa pun dengan Washington sejak konflik pecah.
Meski demikian, sejumlah media Amerika melaporkan adanya pesan dari Washington yang disampaikan melalui pejabat dari Pakistan, Mesir, dan Turki. Pesan itu disebut memuat garis besar tuntutan Amerika. Perkembangan terbaru menyebut pihak Pakistan telah menyampaikan pesan tersebut kepada Iran, yang kemudian memicu ulasan media Barat mengenai kemungkinan posisi tawar kedua negara untuk membuka babak perundingan.
Diketahui, sebelum konflik saat ini pecah, perundingan yang berlangsung di Oman dan Swiss mencakup sejumlah tuntutan AS. Di antaranya pembatasan program nuklir dan rudal Iran, pengendalian uranium yang diperkaya tingkat tinggi yang dinilai berpotensi digunakan untuk senjata nuklir, serta pembatasan pengaruh Iran di kawasan melalui dukungannya kepada sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman.
Namun menurut laporan majalah The Atlantic, tuntutan baru Amerika—yang belum diumumkan secara resmi—diperkirakan melampaui agenda yang diajukan dalam perundingan sebelumnya.
Di antara tuntutan yang disebutkan adalah pembatasan kekuatan militer Iran secara umum, jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz—yang disebut menjadi salah satu instrumen utama dalam konflik setelah Garda Revolusi Iran membatasi kapal-kapal yang dianggap “musuh”—serta pemutusan hubungan Teheran dengan sekutu-sekutunya di kawasan.
Majalah itu juga menyebut adanya tuntutan yang lebih jauh, yakni agar Iran mengakui hak Israel untuk eksis, atau setidaknya mendekati posisi tersebut.
Dari pihak Iran, sejumlah tuntutan yang diperkirakan muncul mencakup penghentian perang secara menyeluruh, disertai jaminan bahwa konflik tidak akan terulang. Teheran juga disebut kemungkinan meminta peran yang lebih jelas dalam pengelolaan Selat Hormuz.
Selain itu, Iran dalam beberapa waktu terakhir menyampaikan bahwa penghentian perang harus disertai kompensasi atas kerugian yang dialami serta pengakuan bahwa konflik ini merupakan bentuk agresi terhadapnya. Iran juga diperkirakan mendorong penarikan pasukan Amerika dari kawasan.
Dengan perbedaan posisi yang masih tajam, prospek negosiasi dinilai belum pasti. Kontak disebut mungkin telah terjadi, tetapi jalan menuju kesepakatan diperkirakan tetap panjang dan penuh ketidakpastian.

