Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan pengunduran dirinya pada 26 Juli 2026 di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) 2025 yang dilaporkan pada 15 Maret 2026, total harta kekayaan Perry tercatat sebesar Rp80,50 miliar.
Dalam LHKPN tersebut, aset Perry didominasi kepemilikan 14 bidang tanah dan bangunan dengan nilai Rp52,32 miliar. Aset properti itu tersebar di Jakarta, Sukoharjo, Sleman, dan Tangerang. Selain itu, ia juga melaporkan kepemilikan surat berharga senilai Rp20,87 miliar.
Untuk kendaraan, Perry tercatat hanya memiliki satu unit mobil Mercedes-Benz S450 senilai Rp2,08 miliar. Adapun komponen kekayaan lainnya terdiri dari kas dan setara kas sebesar Rp2,19 miliar, harta bergerak Rp1,03 miliar, serta harta lainnya Rp1,98 miliar. Dalam laporan tersebut, Perry juga tidak mencantumkan utang.
Transparansi LHKPN ini muncul bersamaan dengan perhatian pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter menyusul pengunduran diri yang disebut beralasan pribadi. Pada saat yang sama, data pasar menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level 17.990 per dolar AS, yang berada di area tekanan tinggi dalam satu tahun terakhir.
Dari sisi fiskal, defisit APBN dilaporkan telah mencapai Rp240 triliun per Maret 2026. Di tengah kombinasi tekanan nilai tukar dan defisit fiskal, mundurnya Gubernur BI secara mendadak memunculkan pertanyaan pasar mengenai kesinambungan kebijakan BI yang selama ini berfokus pada stabilitas rupiah.
Dalam konteks itu, LHKPN yang menunjukkan tidak adanya utang dinilai mempersempit spekulasi terkait integritas keuangan pribadi. Namun, ketidakpastian tetap mengarah pada faktor lain, terutama mengenai proses suksesi kepemimpinan dan arah kebijakan BI selanjutnya.
Tekanan rupiah berpotensi menambah beban impor bahan baku dan energi, serta memperlebar defisit. Kondisi tersebut juga dapat mempersempit ruang gerak bank sentral untuk melonggarkan suku bunga. Sejumlah sektor dinilai paling rentan, antara lain importir, perusahaan dengan pinjaman dalam dolar AS, serta emiten manufaktur padat energi.
Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberi keuntungan jangka pendek bagi eksportir komoditas seperti batu bara dan sawit. Meski demikian, risiko geopolitik global disebut masih membayangi permintaan.
Ke depan, perhatian pasar diperkirakan tertuju pada keputusan presiden terkait penetapan gubernur BI definitif dalam dua pekan setelah pengunduran diri diumumkan. Selain itu, pelaku pasar juga memantau rilis data inflasi Juli, serta pergerakan USD/IDR di rentang 18.000–18.100 sebagai indikator persepsi pasar terhadap efektivitas stabilisasi yang dilakukan bank sentral.