NU Care-LAZISNU Kota Depok, Jawa Barat, menjadi salah satu LAZISNU tingkat cabang yang dijadikan objek produksi video kinerja NU Care-LAZISNU se-Indonesia. Produksi ini merupakan kolaborasi NU Care-LAZISNU PBNU dan TVNU.
Bendahara NU Care-LAZISNU Kota Depok, Zainal Abidin, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan tersebut. Ia mengatakan, dalam proses pengambilan gambar, pihaknya menampilkan rapat laporan semesteran yang memuat capaian pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) hingga sekitar Rp15 miliar.
“Alhamdulillah, kami bersyukur mendapatkan kesempatan ini. Dalam proses pengambilan gambar, kami menampilkan rapat laporan semesteran NU Care-LAZISNU Kota Depok yang memperlihatkan capaian pengelolaan dana ZIS hingga sekitar Rp15 miliar,” ungkap Zainal pada Senin (21/07/2026).
Menurutnya, capaian tersebut merupakan amanah yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Ia menegaskan komitmen lembaganya untuk terbuka kepada publik, terutama terkait hasil, capaian, dan manfaat program yang telah dirasakan masyarakat.
Dalam peliputan itu, salah satu program yang menjadi perhatian tim TVNU adalah Program Beasiswa dan Beasantri. Program ini disebut telah memberikan dukungan kepada 20 siswa dan santri berprestasi dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).
Program tersebut dijalankan melalui JPZIS Nurul Iman Cimanggis, yang merupakan JPZIS pertama yang dibentuk pada masa kepemimpinan Muhtar Said.
Selain itu, tim TVNU juga mendokumentasikan Program Transformasi Ekonomi Keluarga Unggul, yaitu program pemberdayaan UMKM yang mendorong mustahik bertransformasi menjadi muzaki. Program ini dilakukan melalui bantuan modal usaha, pendampingan, serta penyediaan alat produksi.
Sementara itu, Sekretaris sekaligus Ex Officio Manajer Eksekutif NU Care-LAZISNU Kota Depok, Sodiqul Anwar, menilai keterbukaan informasi menjadi kebutuhan organisasi filantropi di era modern. Ia menyebut keterbukaan tidak hanya penting untuk memberikan pemahaman kepada mustahik maupun muzaki yang menyalurkan hartanya melalui LAZISNU, tetapi juga bagi kalangan akademisi.
“Keterbukaan informasi bukan hanya untuk memberikan pemahaman kepada para mustahik maupun para muzaki yang menitipkan hartanya melalui LAZISNU,” terangnya.
“Lebih dari itu, kalangan akademisi juga memiliki perhatian besar untuk mempelajari tata kelola organisasi kami. Karena itu, kami membuka ruang informasi secara proporsional,” lanjut Sodiqul.
Menurut Sodiqul, keterbukaan informasi yang diterapkan LAZISNU Kota Depok turut mendapat perhatian dari akademisi. Ia menyebut lembaganya telah menerima kunjungan mahasiswa dan peneliti dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas PTIQ Jakarta, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ia menambahkan, kelompok akademisi dinilai penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan organisasi nirlaba. Karena itu, LAZISNU Kota Depok menyambut kunjungan tersebut sebagai bagian dari upaya mempertanggungjawabkan pengelolaan lembaga kepada publik melalui pendekatan akuntabilitas, kajian akademik, maupun pendekatan kultural.