Kunjungan Studi Genosida ke Auschwitz Terganjal Karantina Covid-19, Aktivis Tetap Telusuri Jejak Ghetto Yahudi di Krakow

Kunjungan Studi Genosida ke Auschwitz Terganjal Karantina Covid-19, Aktivis Tetap Telusuri Jejak Ghetto Yahudi di Krakow

Sejumlah aktivis yang tergabung dalam rombongan studi genosida ke Polandia harus menelan kekecewaan setelah Museum Negara Auschwitz-Birkenau ditutup menyusul kebijakan karantina Covid-19. Penutupan itu diberlakukan mulai 12 Maret, hanya beberapa jam sebelum rombongan tiba di Krakow pada 11 Maret.

Rombongan tersebut terdiri dari 18 orang—aktivis Rohingya, aktivis anti-rasisme dari Myanmar, serta aktivis isu genosida dari tiga benua. Mereka sebelumnya merencanakan kunjungan ke Auschwitz-Birkenau, yang dikenal sebagai situs pemusnahan massal terbesar dalam sejarah.

Menurut penulis, penutupan mendadak itu menggagalkan harapan untuk menyaksikan langsung bagaimana sebuah negara yang rasis dapat memaknai minoritas sebagai “virus”, “kutu”, atau “ancaman”, hingga membuka jalan bagi kekerasan sistematis. Meski demikian, rombongan tetap melanjutkan program yang telah disesuaikan dan menggunakan kesempatan tersebut untuk merefleksikan pelajaran sejarah.

Di Krakow, rombongan mengikuti tur jalan kaki yang dikelola Museum Yahudi Galicia. Tur dipandu Yacob, seorang sosiolog yang disebut sebagai spesialis sejarah Yahudi Krakow. Mereka menelusuri kawasan Kazimierz—yang dahulu merupakan lingkungan Yahudi yang ramai—serta area ghetto Yahudi yang dibangun Nazi pada Maret 1941 dan dibubarkan pada Maret 1943, berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki melintasi Sungai Vistula.

Dalam tur itu, pemandu menjelaskan bagaimana pasukan Schutzstaffel (SS) disebut mempercayai propaganda mereka sendiri tentang penyakit yang dituduhkan menyebar melalui komunitas Yahudi. Ketakutan tersebut, menurut penuturan pemandu, membuat pasukan SS di Krakow enggan memasuki rumah sakit ghetto Yahudi yang didirikan pada 1941. Situasi itu dimanfaatkan staf medis Yahudi dengan menyembunyikan orang-orang sehat di antara pasien, sehingga sebagian dapat terhindar dari deportasi.

Meski kompleks museum Auschwitz-Birkenau ditutup, rombongan tetap menjalankan agenda hari pertama bersama pemandu profesional bernama Marta, yang tinggal di bangunan tua yang disebut pernah menjadi barak SS di kota Auschwitz. Menurut penjelasan pemandu, kota itu dipilih perencana SS sebagai lokasi pelaksanaan “Solusi Akhir” karena memiliki koneksi transportasi yang baik ke berbagai wilayah Eropa yang diduduki Nazi. Jumlah korban di Auschwitz disebut mendekati satu juta jiwa.

Penulis menggambarkan kompleks Auschwitz-Birkenau sebagai rangkaian tiga kamp: Monowitz yang berfungsi sebagai kamp kerja paksa, serta dua lokasi pemusnahan, yakni Auschwitz I dan Birkenau. Birkenau disebut sebagai perluasan terakhir, dengan bangunan-bangunan SS dari bata merah dan gerbang yang dikenal sebagai “Pintu Masuk Kematian”, tempat korban yang diangkut dengan kereta api menggunakan gerbong ternak tiba.

Rombongan juga meninjau area Monowitz yang kini menjadi kawasan permukiman, namun masih menyisakan struktur dan penanda masa lalu. Di sana mereka melihat bangunan asli dari usaha ekonomi gabungan yang disebut dijalankan oleh Heinrich Himmler dan konglomerat Jerman IG Faben. Penulis menekankan bahwa genosida kerap memunculkan keuntungan ekonomi bagi pelaku, kolaborator, maupun pihak yang menyaksikan, melalui kemitraan negara-korporasi.

Di lokasi itu pula, penulis menyebut dua penyintas Holocaust yang dikenal luas—Elie Wiesel dan Primo Levi—pernah dijadikan pekerja paksa. Sejumlah bangunan lama, menurut penulis, kini dipakai berbagai perusahaan, sementara situs yang dahulu digunakan pejabat SS dan eksekutif perusahaan tetap berfungsi sebagai monumen pengingat masa lalu.

Walau tidak dapat memasuki dua kamp pemusnahan utama karena penutupan museum, rombongan mengaku tetap terguncang oleh skala dan sifat pembunuhan massal yang dilembagakan. Penulis menyatakan setiap anggota rombongan, dengan cara dan risiko masing-masing, berupaya menghentikan apa yang disebutnya sebagai pemusnahan perlahan terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Penulis juga menarik paralel antara kekejaman Nazi dan kekerasan yang dialami Rohingya, sembari menegaskan bentuknya tidak identik. Ia menyebut tidak ada kamar gas maupun krematorium dalam kasus Rohingya, tetapi menilai ada kesamaan dalam tingkat kekejaman dan dehumanisasi yang digambarkan para penyintas. Dalam tulisannya, penulis memaparkan berbagai bentuk kekerasan yang ia sebut dilakukan pasukan pemerintah Myanmar terhadap warga Rohingya.

Ia menggambarkan pengalaman emosional rombongan saat berada di area jalur kereta di depan gerbang yang ikonik. Penulis mengisahkan mengirim foto kelompok kepada seorang kolega asal Myanmar di Montreal, yang menanggapi bahwa mereka tampak sedih dan putus asa. Penulis menyebut pagar kawat berduri berlistrik ganda sebagai salah satu pemandangan yang menguatkan kesan itu.

Bagi penulis, Auschwitz tetap menjadi pengingat keras tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat bergerak menuju genosida dalam kondisi material, politik, dan psikologis tertentu. Ia juga menyinggung pandangannya bahwa genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan masih terjadi di berbagai tempat lain.

Hari kedua di Krakow difokuskan untuk mempelajari kondisi pra-genosida komunitas Yahudi setempat. Museum Yahudi Galicia—yang disebut sebagai organisasi komunitas nirlaba—menutup layanan untuk umum sebagai respons terhadap wabah Covid-19, namun tetap mendukung kelompok studi dengan memberi akses ke fasilitas museum, termasuk toko buku dan ruang kuliah.

Rombongan kemudian mengikuti tur studi di kawasan Yahudi tua dan ghetto Yahudi bertembok, tidak jauh dari pabrik enamel Oscar Schindler yang dikenal luas. Penulis mencatat kawasan Yahudi Krakow pernah dihuni hampir 70.000 orang. Ia juga menyebut SS memaksa sekitar 20.000 orang Yahudi dari Krakow dan wilayah lain tinggal di area yang disebut hanya cukup menampung 3.000 orang.

Penulis mengaitkan pengalaman itu dengan situasi Rohingya di Aung Mingalar, Sittwe, Myanmar, yang ia sebut mengalami proses ghettoisasi. Dalam tulisannya, ia mengutip pernyataan George Soros yang pernah mengunjungi Rakhine pada Februari 2015. Soros, menurut penulis, menyampaikan dalam rekaman video di konferensi internasional di Oslo bahwa ia mendengar “gema masa kecilnya” di Aung Mingalar dan membandingkannya dengan pengalaman sebagai Yahudi di Budapest pada 1944.

Di bagian akhir, penulis menegaskan bahwa meski Auschwitz dengan kamar gas dan krematorium dianggap tidak tertandingi, genosida pada umumnya berlangsung melalui proses bertahap dan sistematis. Ia menyebut proses itu kerap dimulai dari pembingkaian kelompok yang ditargetkan—berdasarkan etnis, ras, agama, atau kebangsaan—sebagai “virus”.