Maraknya konten viral di media sosial membuat masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Publik diingatkan agar tidak langsung mempercayai informasi yang ramai dibagikan sebelum melakukan pengecekan fakta.
Kolumnis dan pengajar Psikologi Komunikasi serta New Era Media, M. Isa Ansori, menilai perkembangan media sosial telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Menurutnya, banyak pengguna internet kini lebih cepat menerima informasi dari TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lain dibanding media arus utama.
“Konten yang viral belum tentu benar. Banyak informasi menyebar karena memancing emosi, bukan karena memiliki fakta yang kuat,” ujar Isa Ansori di Surabaya, Jumat (9/5/2026).
Ia menjelaskan, algoritma media sosial bekerja berdasarkan tingkat perhatian pengguna. Semakin banyak sebuah konten mendapat komentar, dibagikan, atau memancing reaksi emosional, maka semakin besar peluang konten tersebut muncul di lini masa pengguna lain.
Menurut Isa, kondisi itu membuat ruang digital rentan dipenuhi hoaks, propaganda, hingga manipulasi opini publik. Informasi yang belum terverifikasi kerap menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi atau fakta sebenarnya.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan viralitas sebagai ukuran kebenaran. Ia menilai kebiasaan langsung membagikan informasi tanpa memeriksa sumber hanya akan memperbesar penyebaran disinformasi di media sosial.
“Publik harus membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membaca secara utuh, dan membandingkan dengan referensi lain sebelum percaya atau membagikannya,” katanya.
Isa juga menyoroti pentingnya peran media mainstream dalam menjaga kualitas informasi publik. Menurutnya, media profesional tetap memiliki fungsi penting karena bekerja dengan standar jurnalistik, seperti verifikasi data, cek silang informasi, serta mematuhi kode etik pemberitaan.
Namun demikian, ia menilai media mainstream juga perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens digital. Media dinilai perlu menyampaikan informasi secara cepat, mudah dipahami, dan dekat dengan masyarakat tanpa meninggalkan prinsip akurasi.
Selain itu, Isa meminta influencer dan content creator memahami dampak besar dari konten yang mereka produksi. Pengaruh mereka di media sosial dinilai kuat dalam membentuk opini publik, terutama di kalangan generasi muda.
“Influencer tidak harus menjadi jurnalis, tetapi mereka perlu memiliki kesadaran etik agar tidak ikut menyebarkan informasi yang menyesatkan,” ujarnya.
Isa menegaskan literasi digital menjadi kunci menghadapi banjir konten viral di era media sosial. Ia berharap masyarakat semakin kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Menurutnya, ruang publik digital yang sehat hanya bisa terwujud apabila masyarakat, media, pemerintah, dan para kreator konten sama-sama menjaga etika komunikasi serta menghormati kebenaran informasi.