KNPI Lampung Soroti Pelabelan “Londo Ireng” terhadap Pengkritik, Minta Dialog Publik Lebih Santun

KNPI Lampung Soroti Pelabelan “Londo Ireng” terhadap Pengkritik, Minta Dialog Publik Lebih Santun

Bandar Lampung—Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lampung, Jamal, menyoroti maraknya narasi tidak sehat dan aksi saling serang di ruang publik saat merespons kritik. Ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat dan keberadaan kritik merupakan pilar penting untuk menjaga iklim demokrasi yang sehat di Indonesia.

Menurut Jamal, belakangan muncul fenomena memprihatinkan ketika pihak yang tidak sependapat dengan kritik justru meminta pengkritik pindah negara, hingga melontarkan sebutan yang dinilai merendahkan martabat, seperti “londo ireng”. Ia menyebut label tersebut kerap diarahkan kepada wartawan, jurnalis, aktivis LSM, pengamat, akademisi, maupun masyarakat umum.

Jamal menilai kebiasaan melabeli atau mencaci-maki pihak yang menyampaikan kritik tidak semestinya dibiarkan menjadi hal yang lumrah. Ia menegaskan kritik dari masyarakat sipil maupun media massa pada dasarnya berfungsi sebagai instrumen pengawasan agar tata kelola pemerintahan dan pembangunan tetap berpihak kepada rakyat.

“Demokrasi membutuhkan ruang dialog yang sehat, bukan ruang yang dipenuhi caci maki, pelabelan, dan penghinaan. Kehadiran pers, akademisi, dan aktivis merupakan pilar yang mengawal jalannya pembangunan agar tetap berada pada koridor kepentingan masyarakat,” kata Jamal.

Ia menambahkan, setiap perbedaan pandangan atau ketidaksetujuan terhadap kritik seharusnya dijawab secara elegan melalui argumen, fakta, serta data yang objektif. Jamal juga mengimbau agar tidak ada pihak yang mengedepankan emosi hingga melancarkan serangan terhadap identitas personal karena dinilai dapat merusak sendi persatuan.

“Apabila ada kritik yang dianggap keliru, bantahlah dengan fakta dan penjelasan yang objektif. Perbedaan pendapat harus dijawab dengan argumentasi dan diskusi yang bermartabat, bukan dengan serangan pribadi yang memperkeruh suasana,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Jamal mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk merawat etika berkomunikasi di ruang publik maupun media sosial. Ia berharap kritik dapat dijadikan bahan evaluasi konstruktif demi kemajuan daerah dan bangsa.

“Indonesia dibangun di atas semangat persatuan dalam keberagaman. Mari kita jadikan kritik sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk saling memusuhi. Demokrasi akan semakin kuat apabila perbedaan disikapi dengan kepala dingin dan mengutamakan kepentingan bangsa,” pungkas Jamal.