Sebuah video yang beredar di media sosial diklaim memperlihatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengalami pecah pembuluh darah otak atau stroke. Narasi yang menyertai unggahan itu juga menyebut peristiwa tersebut terjadi karena Trump kalah strategi perang dengan Iran.
Namun, hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com menyimpulkan klaim tersebut keliru. Video yang beredar bukan rekaman Trump mengalami stroke, melainkan momen evakuasi saat Trump menjadi sasaran penembakan ketika menghadiri kampanye akbar pemilihan presiden di Butler, Pennsylvania, pada 13 Juli 2024.
Video tersebut dibagikan oleh sebuah akun Facebook pada Kamis (7/5/2026) dengan narasi yang menyesatkan. Untuk memverifikasi konteksnya, Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri rekaman itu menggunakan Google Lens.
Dari penelusuran tersebut, ditemukan bahwa visual yang sama telah muncul dalam berbagai pemberitaan. Salah satunya terdapat dalam unggahan Instagram Variety yang menjelaskan Trump dikawal turun dari panggung saat kampanye di Butler, Pennsylvania, setelah terdengar suara keras yang disebut menyerupai tembakan di tengah kerumunan.
Dalam unggahan tersebut juga disebutkan agen Secret Service melindungi Trump, yang tampak berlumuran darah di wajahnya, ketika menuju iring-iringan mobil. Trump kemudian meninggalkan lokasi acara.
Setelah insiden itu, Trump menyampaikan pernyataannya melalui Truth Social. Ia mengatakan sebuah peluru menembus bagian atas telinga kanannya. “Saya langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres karena saya mendengar suara desis, tembakan, dan langsung merasakan peluru merobek kulit,” kata Trump.
Berdasarkan rangkaian temuan tersebut, klaim bahwa video itu menunjukkan Trump mengalami pecah pembuluh darah otak tidak sesuai fakta. Rekaman yang viral merupakan dokumentasi evakuasi Trump dalam insiden penembakan saat kampanye di Pennsylvania pada Juli 2024.