Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan dalam waktu singkat. Pernyataan itu disampaikan di hadapan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Istana Negara, Jakarta, pada 31 Juli 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menegaskan isu pangan sebagai persoalan dasar yang telah lama ia soroti. Ia kemudian menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai ketahanan pangan sekaligus swasembada pangan.
Sebelumnya, Prabowo juga mendeklarasikan capaian swasembada pangan pada 7 Januari 2026. Deklarasi itu disampaikan dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, dan dapat disimak melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Namun, sejak deklarasi tersebut, klaim bahwa Indonesia sudah swasembada pangan mendapat kritik dari kalangan akademisi. Dalam wawancara dengan DW yang dipublikasikan pada 15 Januari 2026, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dwi Andreas Santosa, menyebut swasembada pangan secara konsep sulit dicapai sepenuhnya.
Menurut Dwi Andreas, salah satu alasannya adalah Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas pangan dalam jumlah besar. Ia mencontohkan impor gandum yang pada 2025 mencapai belasan juta ton.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan impor berbagai komoditas pangan masih terjadi pada 2025. Indonesia tercatat mengimpor bawang putih sebanyak 466.087 ton, kedelai 7.928.795 ton, serta cabai hingga 63.261 ton.
Selain data impor, proyeksi neraca pangan juga menggambarkan masih adanya defisit pada beberapa komoditas. Badan Pangan Nasional merilis “Proyeksi Neraca 11 Komoditas Tahun 2026” yang dimutakhirkan per 4 Juni 2026. Proyeksi tersebut memuat perkiraan produksi, kebutuhan konsumsi, surplus atau defisit, stok awal tahun, ekspor-impor, hingga stok akhir tahun untuk 11 komoditas pangan.
Dalam proyeksi itu, neraca produksi-konsumsi kedelai, bawang putih, dan daging sapi/kerbau diperkirakan defisit masing-masing 2,49 juta ton, 694.770 ton, dan 183.379 ton. Dengan kondisi itu, Indonesia pada 2026 diperkirakan mengimpor kedelai sekitar 2,64 juta ton, bawang putih 679.895 ton, serta daging sapi/kerbau 321.660 ton.
Proyeksi yang sama juga mencatat Indonesia diperkirakan masih mengimpor beras (bukan beras konsumsi) sebanyak 41.144 ton, jagung (pangan) 300.118 ton, dan bawang merah 4.003 ton pada 2026. Total potensi impor sejumlah komoditas tersebut, ditambah impor kedelai, bawang putih, dan daging sapi/kerbau, disebut mencapai 3,98 juta ton.
Sementara itu, untuk gula konsumsi, produksi pada 2026 diperkirakan mencapai 3,04 juta ton. Dengan kebutuhan setahun 2,84 juta ton, neraca produksi-konsumsinya diperkirakan surplus 207.477 ton.
Adapun pada 2025, Kementerian Pertanian mencatat produksi gula konsumsi nasional baru mencapai 2,67 juta ton, masih di bawah kebutuhan gula konsumsi nasional yang sebesar 2,84 juta ton.
Di sisi lain, rilis berbagai lembaga iklim internasional menyebut kemungkinan El Nino—kondisi iklim kering berkepanjangan—akan terjadi lagi pada 2026. Jika El Nino terjadi, produksi padi, jagung, dan tebu diperkirakan menurun, sedangkan produksi hortikultura, terutama buah-buahan, diperkirakan meningkat.