Narasi yang menyebut jaringan komunikasi 5G menjadi penyebab cuaca panas di Eropa pada 2026 beredar di media sosial. Informasi tersebut dibagikan sejumlah pengguna Facebook pada awal Juli 2026, disertai poster bergambar menara 5G dan ilustrasi orang-orang yang kepanasan.
Namun, pemeriksaan fakta menyimpulkan klaim itu tidak benar. Tidak ada bukti kredibel yang mendukung anggapan bahwa sinyal 5G dapat memicu gelombang panas atau memengaruhi cuaca.
Gelombang panas ekstrem memang melanda sejumlah negara Eropa pada Juni–Juli 2026. Di Jerman, suhu memecahkan rekor selama tiga hari berturut-turut dan disebut mencapai 41,7 derajat Celsius. Sementara di Perancis, suhu tertinggi tercatat hingga 43,8 derajat Celsius.
Dampak kondisi panas ekstrem tersebut dilaporkan serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 orang meninggal dunia, berdasarkan catatan per 21 Juni 2026.
Narasi yang beredar di Facebook menuliskan klaim: “BUKAN PERUBAHAN IKLIM, ATAU EMISI KARBON TAPI EROPA DIPANGGANG 5G”. Klaim ini kemudian dibantah oleh para ilmuwan yang menekuni bidang perubahan iklim dan medan elektromagnetik.
Dikutip dari AFP Fact Check, dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom Indonesia, Khoirul Anwar, menyatakan gelombang radio 5G terlalu lemah untuk membuat atmosfer memanas hingga memengaruhi cuaca. Ia menegaskan 5G tidak mungkin memicu gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa dan tidak menyebabkan ionisasi pada kulit maupun membuat lingkungan menjadi panas.
Peneliti iklim dari NERC, Milan Kloewer, juga menyampaikan tidak ada bukti kredibel yang mendukung klaim bahwa sinyal 5G dapat menyebabkan cuaca panas.
Dengan demikian, unggahan yang mengaitkan gelombang panas di Eropa dengan jaringan 5G dinyatakan sebagai hoaks.