Klaim di media sosial yang menyebut hantavirus sebagai efek samping vaksin COVID-19 Pfizer dipastikan tidak benar. Potongan dokumen yang beredar dan dijadikan dasar narasi tersebut merupakan daftar kondisi kesehatan yang perlu dipantau dalam pemantauan keamanan vaksin, bukan daftar penyakit yang disebabkan oleh vaksin.
Narasi itu ramai setelah akun @TheProjectUnity di platform X mengunggah cuplikan dokumen Pfizer dan menuliskan bahwa hantavirus merupakan efek samping vaksin COVID-19. Dalam unggahannya, akun tersebut menyatakan bahwa “hantavirus” termasuk dalam daftar efek samping vaksin.
Hasil pemeriksaan fakta menyimpulkan klaim tersebut menyesatkan. Dokumen yang dimaksud adalah laporan terkait adverse event, yakni kejadian atau kondisi kesehatan yang perlu diawasi selama proses pemantauan keamanan vaksin. Pada bagian yang disorot, memang tercantum istilah hantavirus pulmonary infection.
Namun, istilah itu tercantum dalam kategori AESI (adverse events of special interest). Menurut penjelasan United States Food and Drug Administration, AESI merupakan daftar kondisi kesehatan yang perlu dipantau lebih lanjut selama penelitian vaksin berlangsung. Artinya, pencantuman suatu kondisi dalam AESI tidak otomatis menunjukkan kondisi tersebut disebabkan oleh vaksin, melainkan masuk dalam daftar pemantauan keamanan.
Dokumen Pfizer yang dipersoalkan disebut berasal dari laporan berjudul Cumulative Analysis of Post-Authorization Adverse Event Reports terkait vaksin BNT162B2 atau vaksin COVID-19 Pfizer. Dokumen tersebut muncul setelah adanya gugatan Freedom of Information Act yang diajukan sejumlah profesor dan ilmuwan dari berbagai universitas di Amerika Serikat.
Saat laporan dibuat pada 2021, vaksin Pfizer masih berada dalam tahap penggunaan darurat (emergency use authorization). Daftar AESI dalam dokumen tersebut disusun berdasarkan rekomendasi sejumlah lembaga kesehatan internasional, termasuk Centers for Disease Control and Prevention, European Medicines Agency, serta regulator kesehatan Inggris.
Sementara itu, hantavirus merupakan penyakit langka yang umumnya menyebar melalui hewan pengerat seperti tikus, terutama lewat urine dan kotorannya. Dalam pemeriksaan fakta yang dirujuk, tidak ada keterangan yang menyimpulkan hubungan sebab-akibat antara hantavirus dan vaksinasi COVID-19.