Khamenei Serukan Partisipasi Pemilu Iran, Samakan Antusiasme dengan Pemakaman Qasim Sulaimani

Khamenei Serukan Partisipasi Pemilu Iran, Samakan Antusiasme dengan Pemakaman Qasim Sulaimani

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyerukan seluruh warga Iran untuk berpartisipasi dalam pemilihan presiden dan parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (18/6). Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu sore (16/6), ia menyebut pemilu sebagai peristiwa yang sangat menentukan karena dampaknya dinilai akan memengaruhi berbagai sektor, baik ekonomi maupun non-ekonomi.

Dalam pidatonya, Khamenei menilai pemilu kali ini berlangsung di tengah upaya pihak yang ia sebut sebagai “musuh” untuk memengaruhi rakyat agar tidak ikut memilih. Ia juga menyinggung tekanan melalui embargo, campur tangan dalam urusan politik dan ekonomi dalam negeri, serta penyebaran teror sebagai bagian dari upaya melemahkan Iran.

Khamenei mengakui adanya keluhan masyarakat, terutama kelompok yang merasa haknya terabaikan dan persoalan pendapatan yang tidak diperhatikan. Namun, ia menekankan bahwa masalah tersebut seharusnya dijawab melalui pemilihan pemimpin yang kuat, pekerja keras, dan tak kenal lelah. Ia menyatakan keyakinannya bahwa rakyat akan kembali hadir memberikan dukungan, meski memiliki pilihan politik berbeda.

Ia juga membandingkan pemilu dengan suasana pemakaman Jenderal Qasim Sulaimani. Menurutnya, seperti halnya pemakaman Sulaimani yang dihadiri berbagai kalangan tanpa memandang perbedaan politik, pemilu juga seharusnya dipandang melampaui preferensi politik, sehingga semua pihak ikut berpartisipasi karena dianggap dibutuhkan oleh sistem sosial negara.

Khamenei menegaskan bahwa prinsip utama dalam pemilu adalah partisipasi, baru kemudian pilihan. Ia menyampaikan harapan agar masyarakat hadir dengan cara terbaik. Dalam pandangannya, kehadiran rakyat di kotak suara membawa manfaat politik yang besar, tetapi yang lebih penting adalah prinsip keterlibatan rakyat itu sendiri dalam sistem Republik Islam.

Ia mengatakan realisasi Republik Islam bergantung pada terwujudnya dua dimensi, yakni republik dan Islam. Karena itu, ia menilai pemilihan di Iran menjadi sasaran penentangan “pusat kekuatan jahat” di dunia. Khamenei menyebut “meracuni pikiran rakyat” terkait pemilu dan upaya ikut campur dalam pemilu sebagai dua tujuan yang terus diupayakan pihak luar.

Ia menuding media asing, termasuk media Amerika dan Inggris, berupaya mempertanyakan kebenaran pemilu dan mengurangi tingkat kehadiran masyarakat. Menurutnya, tujuan utama adalah menurunkan partisipasi dan menjauhkan rakyat dari sistem pemerintahan Islam, meski ia menyebut kehendak rakyat kerap bertentangan dengan dorongan tersebut.

Khamenei menyatakan bahwa kehadiran rakyat dalam pemilu merupakan bentuk dukungan terhadap sistem pemerintahan Islam dan berdampak besar pada otoritas Iran. Ia juga mengkritik narasi negatif tentang pemilu yang beredar di ruang maya dan media, yang menurutnya bertujuan mengurangi partisipasi dan melemahkan negara. Ia memperingatkan bahwa melemahnya Iran dapat membuka peluang campur tangan asing dan memicu ketidakamanan.

Ia turut menyinggung hubungan terbalik antara tingkat partisipasi dan tekanan dari luar. Menurutnya, peningkatan partisipasi dapat menjadi sinyal dukungan rakyat kepada negara dan, dalam pandangannya, membantu mengurangi tekanan ekonomi seperti sanksi. Ia juga menilai tingginya suara rakyat dapat memperkuat presiden terpilih untuk menangani persoalan yang ada.

Dalam bagian lain, Khamenei menekankan keabsahan pemilu di Republik Islam. Ia berargumen bahwa perbedaan orientasi politik presiden dari waktu ke waktu menunjukkan pemilu berjalan sah. Ia juga menyebut pemilu di Iran memiliki nilai kompetitif, termasuk melalui debat antarkandidat yang dinilai menampilkan pertarungan gagasan dan dukungan publik yang beragam.

Khamenei menyinggung adanya keraguan sebagian warga, terutama kelompok miskin dan tersisih, untuk ikut memilih karena keluhan terkait mata pencaharian, perumahan, dan pekerjaan. Ia mengatakan keluhan tersebut dapat dipahami, namun menilai tidak ikut memilih tidak akan menyelesaikan masalah. Ia mendorong masyarakat tetap datang ke tempat pemungutan suara dan memilih kandidat yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan.

Ia juga menyoroti peran pemuda dalam isu-isu utama negara dan meminta mereka mendorong partisipasi masyarakat, termasuk membantu mengantar pemilih ke tempat pemungutan suara. Khamenei menolak analisis yang menurutnya membuat masyarakat putus asa, seraya menyatakan Iran memiliki kapasitas dan fasilitas yang besar. Ia mencontohkan sejumlah capaian, termasuk produksi vaksin corona buatan Iran, serta kemajuan yang disebutnya dalam pengayaan uranium untuk tujuan damai.

Di akhir pidato, Khamenei menyampaikan apresiasi dan nasihat kepada petugas pemilu. Ia meminta langkah-langkah perlindungan kesehatan pemilih saat pemungutan suara, serta mengantisipasi masalah kelangkaan atau keterlambatan kertas suara yang pernah terjadi. Ia juga meminta kementerian terkait mempercepat persiapan pemilu di luar negeri dan menegaskan perlunya penindakan tegas terhadap pelanggaran pemilu.

Khamenei menutup pidatonya dengan doa agar bangsa dan negara mendapat bimbingan menuju kondisi yang lebih baik.