Keraton Yogyakarta Gelar Pameran Smarabawana untuk Peringati 37 Tahun Tahta Sultan HB X

Keraton Yogyakarta Gelar Pameran Smarabawana untuk Peringati 37 Tahun Tahta Sultan HB X

Keraton Yogyakarta menggelar pameran khusus bertajuk Smarabawana yang disertai peragaan busana unik untuk memperingati 37 tahun naik tahta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Rangkaian kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026.

Peragaan busana yang dipusatkan di Pagelaran Keraton Yogyakarta mengusung tajuk Buron Wana. Dalam peragaan tersebut ditampilkan 12 figur hewan, yakni gajah, landak, bulus, naga, yuyu atau kepiting sungai, kluyu, turonggo atau kuda, kidang atau rusa, merak, macan, celeng, dan peksi.

Sementara itu, pameran Smarabawana dipusatkan di Kedhaton Keraton Yogyakarta dan berlangsung mulai 8 Maret hingga 26 Agustus 2026. Pameran dibuka setiap hari pukul 08.30–14.30 WIB.

Ketua Pameran sekaligus Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, GKR Bendara, menyebut pameran ini sebagai agenda yang spesial karena merangkum perjalanan tata ruang Keraton Yogyakarta dari masa ke masa. Menurutnya, pameran mencakup aspek arsitektur, narasi sejarah, pertanahan, hingga perkembangan budaya.

“Pameran ini sengaja merangkum perjalanan tata ruang dari masa ke masa Keraton Yogya, mencakup aspek arsitektur, narasi sejarah, pertanahan, hingga perkembangan budaya,” kata GKR Bendara, Minggu, 8 Maret 2026.

GKR Bendara menambahkan, pameran ini memberi kesempatan bagi masyarakat dan wisatawan untuk mempelajari tata ruang Yogyakarta, termasuk Keraton, sebagai ingatan peradaban dan warisan kebijaksanaan leluhur.

Selain menampilkan aspek fisik, pameran ini turut mengangkat narasi ekologis melalui konsep hewan buruan di hutan dan laut pada masa lampau. Konsep tersebut disebut Buron Wana untuk hewan buruan di hutan dan Buron Toya untuk hewan buruan di laut.

“Kedua konsep tersebut menggambarkan kearifan ekologis masyarakat Jawa di masa silam dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam,” tutur GKR Bendara.

Dalam kesempatan yang sama, Sri Sultan Hamengku Buwono X menuturkan bahwa sejak berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755, tata ruang dipahami sebagai cerminan pandangan hidup, bukan semata urusan geografis atau arsitektur.

Sultan menjelaskan, tata ruang Yogyakarta berkaitan erat dengan Sumbu Imajiner Gunung Merapi–Keraton Yogyakarta–Laut Selatan atau filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Konsep ini telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2023 melalui penetapan The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks.

“Tata ruang bukan sekadar planologi, tetapi kosmologi kehidupan. Di dalamnya tercermin nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan suatu peradaban,” tutur Sultan.