Kementerian Agama (Kemenag) belakangan kerap menjadi sasaran hoaks yang beredar di media sosial. Informasi menyesatkan itu muncul dalam beragam tema, mulai dari isu pernyataan pejabat hingga tautan pendaftaran dan klaim bantuan dana.
Berikut sejumlah contoh hoaks yang ditemukan Tim Cek Fakta Liputan6.com, beserta gambaran isi klaim yang beredar di platform media sosial.
1. Klaim Kemenag mewajarkan kasus pencabulan santri di Pati
Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan sebuah postingan yang mengklaim Kemenag mewajarkan kasus pencabulan santri di Pati. Konten tersebut beredar sejak pertengahan pekan dan salah satunya diunggah akun Facebook pada 6 Mei 2026.
Unggahan itu menampilkan foto Menteri Agama Nasaruddin Umar disertai narasi: “Kemenag menegaskan pencabulan 50 santri di Pati bukan termasuk kejahatan agama melainkan nafsu manusiawi, itu wajar”. Pengunggah juga menambahkan kalimat: “Menteri Agama ngomong bukan kejahatan agama. Mana jempolnya dan komennya wahai netizen.”
2. Klaim tautan pendaftaran CPNS Kemenag 2026
Hoaks lain yang ditemukan adalah klaim tautan pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kemenag 2026. Informasi ini diunggah melalui Facebook pada 1 Mei 2026 dengan narasi penerimaan CPNS Kemenag tahun 2026, disertai ajakan “DAFTAR SEKARANG MELALUI LINK RESMI”.
Dalam unggahan tersebut, pemilik akun mengarahkan warganet untuk mengakses tautan yang dicantumkan di bio profil. Saat tautan diklik, pengguna diarahkan ke halaman situs yang menampilkan formulir digital dan meminta data pribadi, seperti nama lengkap sesuai KTP hingga nomor Telegram.
3. Klaim video Dirjen Bimas Islam soal hibah Arab Saudi untuk 500 orang
Tim Cek Fakta Liputan6.com juga mendapati klaim video yang menyebut Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengumumkan bantuan dana hibah dari Arab Saudi untuk 500 penerima. Konten ini diunggah akun Facebook pada 4 April 2026.
Unggahan tersebut memuat ajakan agar masyarakat segera mendaftar sebelum program ditutup untuk periode 2026. Postingan turut menyertakan video berita Kompas TV dengan narasi yang menyebut Abu Rokhmad memberikan klarifikasi, lalu diikuti kutipan pernyataan yang mengarahkan pemirsa agar mendaftar. Pada postingan itu juga terdapat menu untuk mengirim pesan.
Rangkaian contoh di atas menunjukkan bagaimana hoaks dapat muncul dalam berbagai bentuk—mulai dari kutipan pernyataan, tautan pendaftaran, hingga video yang disertai ajakan mendaftar atau mengirim pesan. Masyarakat diimbau untuk berhati-hati terhadap konten serupa yang beredar di media sosial.