Kejutan Pemilu 2024: Petahana Tumbang dan Ujian atas ‘Modal’ Kekuasaan

Kejutan Pemilu 2024: Petahana Tumbang dan Ujian atas ‘Modal’ Kekuasaan

Pemilu kerap menghadirkan kejutan. Sejumlah kandidat yang semula diunggulkan dapat berakhir gagal, termasuk petahana yang dinilai memiliki sumber daya lebih besar dibanding pendatang baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa kontestasi politik tidak selalu berjalan sesuai perkiraan, meski dapat diproyeksikan melalui berbagai pendekatan pemikiran dan riset.

Dalam membaca dinamika kekuasaan, salah satu pendekatan yang kerap digunakan adalah strategi kekuasaan Pierre Bourdieu. Bourdieu menguraikan relasi antara habitus, modal, dan arena. Modal dipahami sebagai sumber daya yang dapat dioptimalkan dalam arena perjuangan, meliputi modal ekonomi, modal sosial, modal kultural, dan modal simbolik. Pendekatan lain juga menempatkan pengetahuan sebagai sumber daya penting dalam kekuasaan, sebagaimana dikemukakan Michel Foucault.

Menurut Bourdieu, kekuasaan diraih dan dijalankan melalui kepemilikan serta pengelolaan modal. Modal-modal tersebut dapat saling ditukar dan berujung pada terbentuknya kekuasaan simbolik. Dengan demikian, semakin besar penguasaan modal, semakin besar pula peluang untuk memenangkan pertarungan dalam suatu arena sosial. Dalam konteks politik elektoral, penguasaan dan optimalisasi modal, serta habitus yang sesuai dengan medan pertarungan, dipandang dapat menentukan hasil.

Dinamika pemilu pada dasarnya merupakan pertarungan sumber daya: siapa yang paling mampu mengoptimalkan apa yang dimiliki. Secara teori, calon legislatif petahana semestinya berada pada posisi lebih kuat karena telah memiliki jaringan, pengalaman, dan akses yang lebih mapan dibanding pendatang baru.

Namun, Pemilu 2024 memperlihatkan banyak petahana yang gagal mempertahankan kursinya, termasuk di sejumlah daerah. Salah satu contoh yang disebut terjadi di Sulawesi Tenggara. Politisi PDI Perjuangan Ir. Hugua dilaporkan gagal melaju ke Senayan setelah perolehan suaranya dikalahkan oleh pendatang baru, Ahmad Safei, mantan Bupati Kolaka. Pada pemilihan legislatif DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara Daerah Pemilihan II, tercatat pula enam petahana tidak berhasil mempertahankan kursi.

Rangkaian peristiwa tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana petahana dapat tumbang, sementara pendatang baru justru meraup suara dan merebut kursi. Berbagai faktor dapat memengaruhi hasil, tetapi tulisan ini menekankan satu hal penting: penguasaan sumber daya kekuasaan dan strategi dalam menggunakannya menjadi kunci dalam menentukan kemenangan atau kekalahan dalam kontestasi.