Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperkuat layanan kesehatan spesialis mata melalui mulai beroperasinya Rumah Sakit Mata Pontianak Eye Center (PEC). Kehadiran fasilitas ini ditujukan untuk menekan rujukan pasien ke luar negeri sekaligus mengurangi beban layanan di rumah sakit pemerintah.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan saat meresmikan operasional rumah sakit tersebut di Pontianak, Minggu, mengatakan keberadaan PEC membuka pilihan layanan bagi masyarakat. Menurutnya, jika di daerah sudah tersedia fasilitas canggih dengan peralatan mutakhir, masyarakat dapat memperoleh layanan di Kalbar tanpa harus berobat ke luar negeri.
Norsan mengapresiasi pendirian rumah sakit mata itu karena dinilai menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini kerap berobat ke Kuching, Malaysia, untuk mendapatkan layanan kesehatan mata. Ia menilai kehadiran fasilitas kesehatan berteknologi modern di dalam daerah dapat meningkatkan efisiensi pelayanan dari sisi waktu, biaya, dan akses, termasuk mempercepat proses pemeriksaan hingga tindakan medis.
Ia juga menekankan aspek keterjangkauan layanan, terutama karena PEC berkomitmen menerima pasien peserta BPJS Kesehatan. Menurut Norsan, langkah ini penting untuk membantu mengurangi penumpukan pasien di RSUD dr. Soedarso yang selama ini kerap mengalami kelebihan kapasitas layanan.
Selain mendukung penguatan layanan melalui PEC, Pemprov Kalbar juga menambah kapasitas RSUD dr. Soedarso dengan pembangunan 123 kamar baru pada tahun ini guna memperluas akses perawatan bagi masyarakat.
Meski demikian, Norsan mengakui masih ada tantangan terkait ketersediaan tenaga medis spesialis. Saat ini Kalbar memiliki sekitar 27 dokter spesialis mata, sementara kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 57 hingga 60 dokter untuk melayani sekitar 6,7 juta penduduk. Ia menyebut perlu ada dorongan berkelanjutan untuk menambah tenaga spesialis agar layanan semakin merata.
Sementara itu, Direktur Pontianak Eye Center dr. Muhammad Iqbal mengatakan peningkatan status PEC dari klinik menjadi rumah sakit merupakan langkah konkret untuk menekan angka kebutaan yang masih cukup tinggi di Kalbar. Ia menyebut secara nasional jumlah penyandang kebutaan diperkirakan sekitar 760 ribu jiwa, dengan penyebab utama antara lain katarak, kelainan refraksi, glaukoma, retinopati, dan gangguan kornea.
Iqbal menyampaikan hingga Desember 2025, PEC telah melakukan sekitar 30 ribu operasi katarak. Namun, ia menilai angka tersebut masih belum sesuai harapan karena kendala jarak tempuh pasien serta pembatasan tindakan oleh BPJS.
Dalam pengembangan layanan sebagai rumah sakit mata, PEC menghadirkan sejumlah layanan unggulan baru, di antaranya Dry Eye Clinic untuk penanganan keluhan mata kering, terutama pada lansia, serta Ortho-K bagi anak dan remaja penderita rabun jauh yang belum dapat menjalani prosedur LASIK.
PEC juga menyiapkan inovasi berupa Bank Mata untuk memfasilitasi donor kornea berbasis digital. Program ini ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan jaringan kornea agar operasi transplantasi dapat dilakukan di Kalbar tanpa harus merujuk pasien ke luar daerah. Iqbal menyebut pihaknya berharap lebih banyak kasus kompleks dapat ditangani di Kalimantan Barat.

