IQAir menjalin kemitraan dengan Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA) dalam kolaborasi yang dipimpin pemerintah kota untuk memperkuat transparansi dan keterlibatan publik terkait kualitas udara. Kerja sama ini menitikberatkan pada perluasan akses informasi kualitas udara di seluruh distrik, dukungan data untuk pengambilan keputusan, serta pemantauan yang lebih dekat dengan komunitas—termasuk melalui sekolah.
Dalam skema kolaborasi tersebut, BMA berperan memimpin koordinasi lokal lintas distrik, sekolah, dan para pemangku kepentingan. Pemerintah kota juga memfasilitasi akses publik terhadap informasi kualitas udara serta komunikasi resmi kepada warga, sekaligus mengawal implementasi melalui proses, mitra, dan persetujuan di tingkat lokal.
Sementara itu, IQAir menyediakan dukungan teknis dan platform data. Dukungan itu mencakup akses data kualitas udara per jam secara waktu nyata dan data historis terbaru melalui API IQAir, serta bantuan pemetaan dan perangkat dasbor agar kondisi kualitas udara di berbagai distrik lebih mudah dipantau. IQAir juga memberi masukan mengenai penerapan pemantauan, pemeliharaan, dan praktik kualitas data, termasuk dukungan untuk inisiatif pemantauan yang berfokus pada sekolah dan pendekatan yang sesuai untuk ruang kelas.
Model kemitraan ini dirancang untuk membantu kota memodernisasi pemantauan kualitas udara, membagikan data secara lebih transparan, serta menghubungkan warga, sekolah, dan lembaga publik dengan informasi yang dinilai andal. IQAir menyebut banyak pemerintah daerah memulai pengembangan pemantauan melalui proyek percontohan di distrik prioritas, sekolah, atau fasilitas umum, sebelum memperluas cakupan dan keterlibatan publik secara bertahap.
Secara umum, tahapan kerja yang ditawarkan dalam kolaborasi semacam ini mencakup penemuan dan penilaian, desain dan penerapan pilot, serta keterlibatan publik dan pelaporan. Pada tahap awal, tim kota dan IQAir meninjau jaringan pemantauan yang sudah ada, mengidentifikasi kesenjangan cakupan, membahas integrasi dengan platform pemerintah kota, dan menentukan peluang pilot. Tahap berikutnya berfokus pada perancangan dan pelaksanaan pilot, yang dapat meliputi stasiun pemantauan luar ruangan, pemantauan dalam ruangan di sekolah atau fasilitas umum, integrasi dengan dasbor kota, serta peta dan visualisasi untuk publik. Tahap terakhir menekankan pemanfaatan wawasan pemantauan untuk komunikasi kepada warga, publikasi data melalui dasbor, serta dukungan sumber daya edukasi bagi sekolah dan komunitas.
Dalam konteks pemantauan dan integrasi data, jaringan sensor umumnya mengukur polutan seperti PM2.5. Data dapat diintegrasikan ke situs web pemerintah, dasbor, atau platform kota, termasuk melalui akses API untuk data real-time, dataset historis untuk analisis dan pelaporan, serta panduan terkait kualitas data, praktik pemeliharaan, dan dokumentasi komunikasi publik.
IQAir juga menyoroti opsi pemantauan berbasis sekolah melalui program Schools4Earth. Program ini memposisikan sekolah sebagai pusat informasi kualitas udara bagi komunitas sekitar dengan menyediakan data lingkungan secara real-time. Tujuannya antara lain mendukung lingkungan belajar yang lebih sehat, membantu pengambilan keputusan terkait aktivitas luar ruangan, memperkuat pendidikan lingkungan melalui data lokal, serta memperluas akses komunitas terhadap informasi kualitas udara melalui institusi yang dekat dengan warga.
Menurut penjelasan IQAir, kolaborasi dengan kota dan pemerintah daerah bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan prioritas lokal. Proyek dirancang dan diimplementasikan melalui perjanjian terpisah dan/atau jalur pengadaan standar, mengikuti hukum dan kebijakan yang berlaku, serta tidak menyiratkan perlakuan istimewa maupun eksklusivitas.

