JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (3/2) sore. Penguatan terjadi seiring respons positif pelaku pasar terhadap transparansi otoritas pasar modal Indonesia terkait isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).
IHSG naik 199,87 poin atau 2,52% ke posisi 8.122,60. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan menguat 17,48 poin atau 2,17% ke level 823,72.
Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai penguatan ini merupakan technical rebound setelah pasar berada dalam kondisi oversold, ditambah faktor transparansi regulator terkait isu MSCI.
Menurut Wafi, sepanjang pekan ini IHSG berpeluang bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat. Ia juga memperkirakan investor asing masih akan bersikap wait and see menunggu pengumuman MSCI berikutnya. Di sisi lain, investor domestik dinilai mulai melakukan bargain hunting menjelang musim rilis laporan keuangan full year 2025.
Wafi turut menyoroti delapan rencana reformasi pasar modal yang disebutnya sebagai “pil pahit” untuk menggeser fokus pasar dari kuantitas emiten baru melalui IPO menuju kualitas integritas. Ia menilai meski berpotensi menimbulkan guncangan jangka pendek, langkah tersebut diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Terkait kebijakan keterbukaan informasi pemegang saham di bawah 5% serta penambahan free float, Wafi menilai peningkatan transparansi dapat menjadi game changer untuk menekan praktik spekulasi pasar. Namun, ia juga mengingatkan percepatan kewajiban free float berisiko memicu supply shock atau banjir pasokan saham yang dapat menekan harga dalam jangka pendek.
Wafi memprediksi IHSG akan melewati fase pencarian titik terendah pada semester I/2026 sebelum pulih pada paruh kedua tahun tersebut. Ia menyebut level 9.000-an lebih realistis untuk akhir 2026, dengan pemulihan yang sangat bergantung pada stabilitas implementasi regulasi baru.
Dari sisi prospek, saham berkapitalisasi besar atau blue chip dinilai paling menjanjikan. Hal ini didorong rencana kehadiran Danantara serta wacana kenaikan alokasi investasi asuransi dan dana pensiun ke instrumen saham. Menurut Wafi, masuknya dana besar dari Danantara dan mandat investasi dana pensiun berpotensi memberi dukungan struktural dan menciptakan efek kelangkaan pada saham-saham penghuni LQ45, yang pada akhirnya dapat mendorong valuasi saham unggulan.
Secara intraday, IHSG sempat dibuka melemah sebelum bergerak ke zona positif hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG bertahan di area hijau sampai akhir perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor menguat. Kenaikan dipimpin sektor barang baku yang naik 6,52%, disusul sektor properti 5,02% dan sektor transportasi & logistik 4,97%.
Saham dengan penguatan terbesar tercatat pada HUMI, LEAD, GTSI, BUMI, dan OASA. Sementara saham yang melemah paling dalam yakni NSSS, MORA, FILM, INTD, dan RMKO.
Frekuensi perdagangan tercatat 3.273.812 kali transaksi dengan volume 61,09 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp29,35 triliun. Pada penutupan, sebanyak 654 saham menguat, 108 saham melemah, dan 56 saham tidak bergerak.

