JAKARTA — Minimnya keterbukaan perusahaan di Indonesia dalam mengungkap risiko bisnis terhadap alam dinilai menjadi salah satu penghambat masuknya investasi berkelanjutan dari investor global. Investor disebut membutuhkan informasi yang jelas mengenai risiko lingkungan yang dihadapi perusahaan beserta langkah mitigasi yang dilakukan sebelum menanamkan modal.
Executive Director Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) Indah Budiani mengatakan banyak perusahaan, terutama yang bergantung pada sumber daya alam, belum menerapkan pelaporan berbasis Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD). Menurutnya, kondisi ini membuat investor kesulitan menilai kesiapan perusahaan dalam mengelola risiko terkait lingkungan.
“Investor melihat Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sumber daya alam. Namun, perusahaan-perusahaan kita belum banyak yang memiliki pelaporan TNFD untuk menjelaskan risiko yang dihadapi dan bagaimana mitigasinya,” ujar Indah dalam acara di Kementerian PPN/Bappenas, Selasa (21/7/2026).
Indah menilai, tanpa keterbukaan mengenai risiko lingkungan, investor akan memandang tingkat ketidakpastian investasi di Indonesia masih tinggi. Hal itu dikhawatirkan dapat memengaruhi prospek keuntungan jangka panjang apabila perusahaan tidak mampu mengantisipasi dampak krisis lingkungan.
“Kalau risikonya tinggi dan perusahaan tidak menunjukkan upaya mitigasi, investor tentu akan mempertimbangkan kembali investasinya,” kata Indah.
Selain persoalan transparansi, ia juga menyoroti kepastian regulasi sebagai tantangan dalam menarik investasi jangka panjang. Indah mencontohkan praktik regenerative landscape yang mendorong petani memberi waktu bagi lahan untuk memulihkan kesuburannya setelah panen. Menurutnya, hingga kini belum ada kepastian mengenai pihak yang akan menanggung biaya hidup petani selama masa pemulihan lahan.
“Apakah biaya itu menjadi tanggung jawab perusahaan yang bermitra dengan petani, atau pemerintah turut memberikan dukungan? Kepastian seperti ini yang masih dibutuhkan investor,” ujarnya.
Di sisi lain, Indah menyebut tren investasi global semakin mengarah pada perusahaan yang menerapkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG). Pergeseran ini, menurutnya, didorong oleh meningkatnya kesadaran terhadap kondisi lingkungan global yang telah melampaui sejumlah batas aman planet (planetary boundaries).
Meski begitu, Indonesia dinilai tetap memiliki daya tarik besar bagi investor karena kekayaan sumber daya alamnya. Selain nikel yang menjadi penopang industri kendaraan listrik, Indonesia juga disebut memiliki potensi pada komoditas rempah-rempah, kopi, dan tanaman herbal.
Namun, Indah menilai potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu tantangannya adalah peningkatan kualitas pengolahan agar daya saing produk di pasar internasional dapat lebih kuat.
Di sektor manufaktur, khususnya industri tekstil, perusahaan juga dinilai perlu mempercepat efisiensi energi, efisiensi sumber daya, serta pengurangan emisi gas rumah kaca agar mampu memenuhi standar keberlanjutan yang semakin diperhatikan investor global.