Sejumlah hoaks yang mencatut nama mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md kembali beredar di media sosial. Konten yang beredar umumnya menggunakan format video yang seolah-olah menampilkan Mahfud sedang mengumumkan program bantuan kepada masyarakat.
Dalam penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, video-video tersebut disebut berasal dari rekaman kegiatan Mahfud pada waktu sebelumnya, lalu disunting—termasuk dengan penggunaan AI—untuk menambahkan narasi tertentu. Pola yang muncul dalam unggahan hoaks ini juga mengarahkan warganet agar menghubungi nomor WhatsApp tertentu, baik melalui tombol “kirim pesan” maupun ajakan menuliskan nomor WhatsApp di kolom komentar.
Berikut dua contoh hoaks yang beredar dan mengatasnamakan Mahfud Md.
1. Klaim video Mahfud Md mengumumkan bansos untuk membuka usaha
Salah satu unggahan di Facebook pada 15 Juli 2026 menampilkan video yang mengklaim Mahfud Md mengumumkan bantuan sosial berupa uang tunai untuk modal usaha. Dalam narasinya, video tersebut menyebut bantuan diberikan tanpa undian dan meminta penerima segera menghubungi WhatsApp untuk diproses dan ditransfer pada hari yang sama.
Unggahan itu juga disertai keterangan bertuliskan “(PROFESOR.H.MOHAMMAD MAHFUD MD)” serta ajakan agar pengguna yang ingin diproses cepat menekan tombol untuk menghubungi pengunggah. Dalam postingan tersebut turut muncul menu kirim pesan.
2. Klaim video Mahfud Md membagikan dana bantuan Rp100 juta dengan pendaftaran via WhatsApp
Hoaks lain ditemukan dalam unggahan Facebook bertanggal 8 Juni 2026. Video tersebut memuat narasi yang menyebut adanya “rampasan aset dari koruptor” sebesar Rp10 miliar yang akan dibagikan kepada masyarakat yang belum memiliki usaha. Disebutkan pula setiap orang akan menerima bantuan Rp100 juta dan diminta mendaftar dengan menghubungi WhatsApp.
Pengunggah menambahkan keterangan yang mengajak warganet mengirim nomor WhatsApp di kolom komentar dan menjanjikan “uang bantuan” Rp100 juta.
Secara umum, konten-konten semacam ini menampilkan pola serupa: menggunakan video yang disunting agar tampak meyakinkan, lalu mengarahkan warganet ke komunikasi pribadi melalui WhatsApp. Penelusuran Cek Fakta Liputan6.com menyatakan klaim-klaim tersebut tidak benar.