Indonesia sebagai negara demokrasi membutuhkan partisipasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk generasi Z (Gen Z), dalam proses politik. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pendidikan politik diperlukan bagi masyarakat, terutama Gen Z, di tengah menguatnya peran media sosial dalam membentuk pandangan dan perilaku politik.
Pendidikan politik dipahami sebagai upaya mendorong masyarakat ikut serta dalam tanggung jawab menjalankan aktivitas politik. Tujuannya antara lain memperkuat kemampuan warga dalam memahami situasi politik di masyarakat serta memperjuangkan kepentingan tertentu. Dalam konteks Gen Z, pemahaman tentang demokrasi di Indonesia perlu melihat keterlibatan politik, sentimen nasionalis, dan pengaruh digital yang melekat pada generasi ini.
Komposisi penduduk Indonesia saat ini didominasi generasi milenial dan Gen Z. Mengacu pada Bencsik dkk, Gen Z adalah mereka yang lahir pada rentang 1995–2010. Dalam hal kepribadian politik, Gen Z disebut lebih cenderung terlibat pada partisipasi politik yang bersifat instrumental dan informasional dibandingkan yang bersifat strategis. Mereka juga dinilai lebih sering melakukan aktivitas yang sebatas menonton atau membaca, serta relatif lebih kecil kemungkinannya terlibat dalam aktivitas yang mengharuskan pengumpulan informasi untuk disimpan atau melibatkan orang lain.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, Gen Z berada dalam masyarakat yang kian terbiasa menggunakan teknologi digital. Pergeseran ini turut mendorong peningkatan partisipasi politik melalui platform media sosial, yang menjadi ruang pembelajaran sosial sekaligus ekspresi politik.
Dalam konteks pemilihan presiden, penggunaan media sosial oleh calon presiden saat kampanye disebut terus meningkat. Kondisi tersebut mendorong kandidat mencari strategi yang lebih canggih dan kreatif untuk mengoptimalkan kehadiran mereka di media sosial. Pola penggunaan media sosial dinilai turut memengaruhi kontestasi Pilpres 2024, dengan kampanye yang dalam banyak hal bersinggungan langsung dengan perilaku digital Gen Z.
Namun, media sosial juga kerap menjadi saluran penyebaran konten politik secara bebas, termasuk memunculkan kekhawatiran terkait berita palsu dan misinformasi. Meski demikian, Gen Z tetap didorong untuk sadar politik dan berperan aktif dalam membentuk masa depan negara.
Terkait keputusan politik, Gen Z disebut memiliki akses informasi yang melimpah yang memengaruhi perspektif dan pilihan mereka. Mereka juga cenderung mengikuti karakteristik teman sebaya, yang pada gilirannya dapat mendorong keterlibatan politik. Salah satu solusi yang diajukan adalah perlunya Pendidikan Kewarganegaraan yang komprehensif bagi masyarakat, khususnya Gen Z, agar perbedaan pilihan politik tidak merusak persatuan.
Di sisi lain, Gen Z kerap mengadvokasi isu hak asasi manusia, lingkungan, dan kesetaraan gender. Media sosial digunakan untuk menyuarakan pandangan, membentuk opini publik, dan memperjuangkan isu-isu yang mereka anggap penting. Dalam pemilu, Gen Z disebut menjadi kelompok signifikan karena jumlah suara yang besar serta kecenderungan politik yang tidak selalu sejalan dengan generasi sebelumnya. Hal ini mendorong partai politik berupaya mengangkat isu-isu yang dianggap relevan bagi generasi muda.
Partisipasi aktif Gen Z dalam pemilu dinilai dapat memperkuat demokrasi, termasuk menjaga integritas penyelenggaraan pemilu. Kontribusi mereka disebut dapat dilakukan melalui penggunaan hak pilih, pemantauan pemilu, pendidikan pemilih, dan advokasi. Pengalaman praktis juga disebut menunjukkan bahwa keterlibatan Gen Z dalam pemantauan pemilu berdampak positif dalam mengurangi kecurangan dan memperkuat demokrasi secara keseluruhan.
Di tengah arus informasi yang cepat, Gen Z juga dituntut memiliki kemampuan kritis untuk memilah dan memverifikasi informasi. Mereka dinilai memiliki peluang untuk bergabung dengan gerakan atau organisasi yang memerangi berita palsu dan menyebarkan informasi akurat, serta berpartisipasi dalam kampanye media sosial yang mendidik publik untuk mengenali dan menghindari misinformasi. Pada saat yang sama, Gen Z didorong menuntut kepemimpinan yang adil, jujur, dan bertanggung jawab.

