Film Horor Backrooms Tayang di Indonesia, Mengandalkan Teror dari Konsep Liminal Space

Film Horor Backrooms Tayang di Indonesia, Mengandalkan Teror dari Konsep Liminal Space

Film horor Backrooms, yang diadaptasi dari kisah seram di situs 4chan dan Creepypasta, resmi tayang di Indonesia pada 10 Juni 2026 setelah lebih dulu diputar perdana di Amerika Serikat sekitar sebulan sebelumnya. Berbeda dari banyak film horor yang menonjolkan monster atau sosok supranatural, film ini membawa penonton ke dunia ekstra-dimensional berisi ruangan kosong, lorong yang seolah tak berujung, serta tempat-tempat yang tampak familiar namun terasa ganjil.

Dalam dunia tersebut, ketakutan tidak terutama muncul dari sesuatu yang terlihat, melainkan dari kesunyian dan ketidakpastian yang hadir di setiap sudut ruang. Lorong yang berulang, pencahayaan monoton, dan ruangan yang terasa tanpa tujuan perlahan membangun kecemasan. Teror dalam Backrooms tidak bertumpu pada ancaman fisik semata, melainkan pada tata ruang yang membuat penonton merasa terjebak dalam situasi yang sulit dipahami.

Pendekatan itu dihadirkan melalui kolaborasi studio A24 Pictures dan sutradara Kane Parsons. Film ini menempatkan ruang sebagai sumber kengerian yang utama: tempat yang tampak akrab, tetapi seolah kehilangan maknanya sebagai ruang bagi manusia. Dari situ, Backrooms mengajak penonton merasakan ketidaknyamanan yang lahir bukan karena kehadiran makhluk tertentu, melainkan karena lingkungan yang tidak memberi kepastian.

Konsep yang banyak dimanfaatkan dalam penceritaan film ini dikenal sebagai liminal space. Ruang liminal merujuk pada tempat-tempat kosong atau terbengkalai yang memunculkan kesan menakutkan, melankolis, sekaligus surealis. Umumnya, ruang semacam ini merupakan area transisi—misalnya lorong, ruang tunggu, pusat perbelanjaan, sekolah, atau kantor—yang berada di antara satu fungsi dan fungsi lainnya, sehingga kerap dikaitkan dengan gagasan “ambang batas”.

Daya ganggu liminal space muncul ketika sesuatu yang sebenarnya familiar berubah menjadi asing karena kehilangan konteks. Ruang yang biasanya dipenuhi aktivitas manusia dapat terasa tidak nyaman saat kosong: pencahayaan yang datar, pola ruang berulang, ketiadaan suara, dan absennya kehadiran orang lain dapat memunculkan perasaan seolah berada di luar realitas yang dikenal. Elemen-elemen inilah yang kemudian digunakan Backrooms untuk membangun teror yang tidak bergantung pada kemunculan monster.

Dalam kehidupan sehari-hari, tata ruang biasanya memiliki tujuan yang jelas. Koridor menghubungkan ruangan, pintu mengarah ke tempat tertentu, dan elemen arsitektur berfungsi sebagai penanda untuk membantu orientasi. Namun, di dunia Backrooms, fungsi-fungsi itu seakan dihapus: lorong yang sama berulang tanpa ujung, sudut-sudut tampak identik, dan tidak ada petunjuk yang bisa digunakan untuk menentukan posisi atau arah.

Gagasan bahwa desain ruang dapat memengaruhi kondisi manusia juga disinggung melalui penelitian K. Strachan Regan dan O. Bauman pada 2024 berjudul “The Impact of Room Shape on Affective States, Heartrate, and Creative Output”. Studi yang memanfaatkan teknologi virtual reality tersebut menyoroti bahwa karakter geometris suatu ruang dapat memunculkan dampak psikologis dan neurofisiologis yang berbeda, termasuk terhadap suasana hati dan respons fisiologis.

Melalui pendekatan semacam ini, Backrooms menegaskan bahwa tata ruang bukan unsur pasif. Ketika ruang kehilangan tujuan dan orientasi, manusia dipaksa menghadapi ketidakpastian. Rasa familiar yang biasanya menghadirkan kenyamanan dapat berubah menjadi sesuatu yang mengganggu, membuat seseorang seolah tersesat bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis.

Pada akhirnya, Backrooms menggambarkan bentuk kengerian yang berasal dari ruang yang kehilangan makna. Lorong kosong, dengung lampu neon, dan ruangan yang seakan tak berakhir mengubah hal-hal biasa menjadi sumber kecemasan. Film ini memperlihatkan bahwa ketakutan paling dalam tidak selalu datang dari sesuatu yang sepenuhnya asing, melainkan dari tempat-tempat yang terasa akrab namun tiba-tiba tidak lagi dapat dipahami.