Fenomena Belanja Berlebihan Jelang Lebaran: Dorongan THR, Tradisi, dan Promosi

Fenomena Belanja Berlebihan Jelang Lebaran: Dorongan THR, Tradisi, dan Promosi

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, hingga platform digital umumnya dipadati masyarakat. Peningkatan aktivitas ini kerap dikaitkan dengan fenomena “shopaholic” jelang Lebaran, yakni kecenderungan berbelanja secara berlebihan untuk menyambut hari raya. Dalam kajian perilaku konsumen, shopaholic merujuk pada perilaku konsumtif yang didorong dorongan emosional untuk membeli barang, bahkan melampaui kebutuhan.

Di Indonesia, perilaku ini muncul dari sejumlah faktor yang saling terkait. Dari sisi ekonomi, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) meningkatkan daya beli masyarakat. Dari sisi psikologis, ada keinginan tampil lebih baik saat bersilaturahmi dengan keluarga dan lingkungan. Selain itu, promosi serta diskon besar-besaran dari pusat perbelanjaan dan platform e-commerce selama Ramadhan turut mendorong keputusan belanja. Faktor sosial-budaya juga berperan, karena tradisi Lebaran sering diasosiasikan dengan pembelian berbagai kebutuhan baru.

Aktivitas belanja memang lekat dengan budaya Lebaran di Indonesia. Sejak lama berkembang anggapan bahwa Idul Fitri identik dengan pakaian baru, hidangan istimewa, serta bingkisan untuk keluarga dan kerabat. Survei nasional pada 2023 mencatat sekitar 45,4% masyarakat Indonesia menganggap membeli pakaian baru sebagai bagian penting dari tradisi Lebaran.

Sejumlah data turut menggambarkan lonjakan konsumsi menjelang Idul Fitri. Survei GoodStats pada 2023 menunjukkan bahwa setelah menerima THR, sekitar 79% masyarakat membeli pakaian, 71% membeli makanan dan minuman, serta 52% membeli kue Lebaran atau hampers untuk dibagikan kepada keluarga dan tamu. Selain itu, sekitar 43% membeli produk perawatan diri dan 38% membeli sepatu atau alas kaki. Pola ini menunjukkan bahwa kebutuhan simbolik—seperti tampil baru dan menjamu tamu—menjadi pendorong penting dalam perilaku konsumsi.

Fenomena tersebut tercermin pula pada besarnya perputaran ekonomi selama Ramadhan dan Idul Fitri. BSI Institute pada 2025 menyebut perputaran uang selama Ramadhan mencapai sekitar Rp1.024,97 triliun, dengan sekitar 64,75% responden mengaku meningkatkan pengeluaran selama Ramadhan, terutama untuk kebutuhan makanan, pakaian, dan kegiatan sosial. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat realisasi perputaran uang tunai selama Ramadhan dan Idul Fitri 2025 mencapai sekitar Rp160,3 triliun, menggambarkan tingginya aktivitas transaksi masyarakat pada periode tersebut.

Data itu menegaskan bahwa Ramadhan dan Idul Fitri bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga menjadi periode ekonomi yang besar. Sektor ritel, kuliner, transportasi, hingga jasa pengiriman biasanya mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan.

Meski demikian, perilaku belanja berlebihan menjelang Lebaran dinilai perlu disikapi secara bijak. Esensi Idul Fitri tidak semata pada konsumsi, melainkan pada makna spiritual setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Tradisi dapat tetap dijalankan, namun penting diimbangi dengan kesadaran kebutuhan yang rasional serta kemampuan ekonomi masing-masing.