Sebuah video yang beredar di media sosial mengaitkan kebakaran di kawasan dekat Masjidil Haram, Mekah, dengan perang Iran-Israel. Pengunggah menyebut kebakaran menimpa restoran shawarma dan Hotel Mira Ajyad, serta menuduh peristiwa itu bagian dari “operasi bendera palsu” (false flag) Israel di lokasi ibadah besar dunia berdasarkan klaim intelijen Iran.
Video berdurasi 21 menit tersebut telah ditonton lebih dari 314 ribu kali, disukai sekitar 2.000 pengguna, dan dibagikan ulang oleh ratusan akun. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan narasi yang mengaitkan kebakaran itu dengan konflik bersenjata tidak didukung bukti.
Berdasarkan verifikasi melalui analisis visual, peta digital, serta perbandingan dengan sumber-sumber kredibel, kebakaran memang terjadi di Hotel Mira Ajyad, Mekah. Akan tetapi, peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan perang yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Lokasi kebakaran diidentifikasi melalui pencarian gambar terbalik yang mengarah pada kejadian pada 12 Maret 2026. Mengacu pada laporan The Islamic Information, otoritas setempat menyatakan api bermula dari tumpukan sampah di lahan kosong dekat hotel.
Verifikasi lokasi juga dilakukan menggunakan Google Earth. Lanskap kota dalam video yang beredar dinilai identik dengan suasana di Jalan King Abdul Aziz. Kesamaan terlihat dari tiang lampu jalan serta bangunan berwarna coklat dengan jendela minimalis. Zamzam Tower juga tampak di kejauhan. Pengukuran melalui Google Maps menunjukkan Hotel Mira Ajyad berjarak sekitar 500 meter dari Zamzam Tower.
Dalam narasi yang beredar, istilah “operasi bendera palsu” digunakan untuk menggambarkan serangan rahasia yang pelakunya kemudian menyalahkan pihak lain. BBC mencatat istilah itu awalnya merujuk pada taktik bajak laut pada abad ke-16, ketika mereka mengibarkan bendera negara sahabat untuk menipu kapal dagang agar diizinkan merapat.
Penelusuran menemukan klaim terkait “operasi bendera palsu” dalam artikel Al Mayadeen.net berjudul “Exclusive: Source warns of Israeli false flag operations ahead” yang terbit pada 8 Maret 2026. Artikel tersebut mengutip peringatan seorang pejabat di Kementerian Intelijen Iran pada 7 Maret yang disebut bersumber dari kantor berita Iran, Tasnim. Peringatan itu menyebut kemungkinan rencana operasi bendera palsu Israel untuk menyerang kompleks Masjid Al-Aqsa di wilayah pendudukan Quds menggunakan drone atau rudal, dengan tujuan menghasut opini publik Arab dan dunia Muslim terhadap Iran.
Namun, saat ditelusuri di situs resmi Tasnim, tidak ditemukan berita mengenai pernyataan pejabat intelijen Iran tersebut. Hasil serupa juga diperoleh ketika pengecekan dilakukan pada sejumlah media internasional kredibel.
Pemberitaan mengenai dugaan Iran terhadap operasi bendera palsu Israel justru berkaitan dengan fasilitas minyak Aramco milik Arab Saudi pada 2 Maret 2026. Kepada Tasnim, seorang informan menyebut rencana Israel itu bertujuan mengalihkan perhatian negara-negara tetangga dari serangan terhadap situs-situs sipil di Iran.
Iran juga sempat menuding Israel merancang konspirasi operasi bendera palsu. Dikutip dari Anadolu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan menerima informasi tentang dugaan rencana Israel melakukan serangan seperti 9/11 dan menyalahkan Iran atas kejadian tersebut.
Kesimpulannya, klaim yang menyebut kebakaran di kawasan Masjidil Haram terjadi akibat perang Iran-Israel melalui operasi bendera palsu adalah menyesatkan. Kebakaran di Hotel Mira Ajyad memang terjadi, tetapi disebut bermula dari tumpukan sampah, bukan akibat konflik bersenjata.

