Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sleman tengah melakukan kajian potensi investasi pada 2026. Kepala DPMPTSP Sleman Triana Wahyuningsih mengatakan kajian tersebut dilakukan bersama para akademisi sebagai bagian dari upaya promosi kepada investor.
Salah satu kajian yang dilakukan berada di wilayah Prambanan, berupa rencana pengembangan objek wisata kereta gantung. Dari sisi perizinan, Triana menyebut proses saat ini masih berjalan untuk mendapatkan izin Gubernur. Sementara itu, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang disebut sedang melakukan proses clearing karena lahan yang direncanakan merupakan lahan sawah yang dilindungi.
Triana menjelaskan, meski terdapat status lahan sawah dilindungi (LSD), kebutuhan alokasi lahan sawah dilindungi di Sleman masih sesuai ketetapan pemerintah pusat, yakni minimal 87 persen. “Ini sedang dilakukan clear and clear karena dari sisi tata ruang itu sudah tidak ada masalah, tetapi oleh Pemerintah Pusat ditetapkan sebagai LSD (lahan sawah dilindungi)... Sehingga insya Allah teman-teman hari ini sudah clear and clear terhadap pemenuhan 87 persen untuk lahan sawah yang dilindungi,” ujar Triana.
Selain Prambanan, pengembangan investasi juga direncanakan di kawasan Kaliurang. Triana menyebut wilayah ini turut dilirik investor yang sebelumnya mengelola destinasi wisata Celosia Semarang dan Mikutopia Batu, Jawa Timur. Rencananya, destinasi wisata berupa taman bunga akan dibangun di atas tanah perorangan bekas tambang di Padukuhan Boyong. Triana menyampaikan, pembangunan tersebut sekaligus diharapkan mendukung reklamasi dan relaksasi lahan pertambangan di kawasan Kaliurang.
DPMPTSP Sleman juga mendampingi investor yang sebelumnya mengelola Cimory di Semarang. Triana menyebut, rencana pengembangan Cimory di Kaliurang akan memanfaatkan tanah kasultanan. Dari sisi perizinan, Keraton Yogyakarta disebut telah memberikan izin palilah, yang selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan surat kekancingan yang juga dikeluarkan oleh Keraton Yogyakarta.